Pemerintah Buka 108 Cekungan Migas, Undang Investor Garap Ladang Baru

- Selasa, 25 November 2025 | 16:05 WIB
Pemerintah Buka 108 Cekungan Migas, Undang Investor Garap Ladang Baru

Jakarta, Selasa (25/11/2025) – Target ambisius pemerintah untuk mendongkrak produksi minyak hingga 1 juta barel per hari dan gas 12 miliar kaki kubik per hari kini mulai dijalankan dengan serius. Yuliot, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, secara terbuka mengajak para investor untuk turut serta mengembangkan cekungan migas di Indonesia.

Menurutnya, peluangnya sangat besar. Bayangkan saja, dari 128 cekungan migas yang sudah teridentifikasi di seluruh Nusantara, baru 20 yang benar-benar dikembangkan. Itu artinya masih ada 108 cekungan lain yang menunggu untuk dieksplorasi. Wilayah-wilayah ini disebutnya kaya data dan tentu saja, peluang.

"Pada 2025 dan 2026, pemerintah sudah menyiapkan anggaran yang signifikan," ujar Yuliot dalam Grand Launching of Indonesia Oil and Gas Exploration di Jakarta.

Dia menjelaskan, dana itu akan dipakai Badan Geologi untuk melakukan survei lanjutan, baik 2D maupun 3D. Langkah ini diharapkan bisa membuka jalan bagi eksplorasi yang lebih masif.

Di sisi lain, pemerintah tak hanya mengandalkan data. Untuk menciptakan iklim investasi yang menarik, sejumlah regulasi telah diterbitkan. Misalnya, Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2025 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko dan Peraturan Menteri ESDM No. 14 Tahun 2025 tentang Kerja Sama Pengelolaan Wilayah Kerja. Aturan ini diharap bisa mempermudah kerja sama dengan prinsip transparan dan efisien.

Lalu, apa yang sudah disiapkan di lapangan? Kementerian ESDM konon telah menyiapkan 75 blok migas yang tersebar dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, hingga wilayah lepas pantai. Semuanya siap dikembangkan, baik lewat penugasan langsung maupun lelang reguler.

"Saat ini, sudah ada 9 blok minyak dan gas bumi yang ditunjuk untuk dikembangkan badan usaha," kata Yuliot. Beberapa blok lain dikabarkan akan menyusul.

Strateginya tidak berhenti di situ. Pemerintah juga fokus pada identifikasi dan evaluasi cadangan yang belum ditemukan. Teknik-teknik seperti Enhanced Oil Recovery (EOR) dan waterflood akan diterapkan di lapangan-lapangan yang dinilai menjanjikan. Tak ketinggalan, optimalisasi sumur-sumur yang tak terpakai juga menjadi prioritas.

Langkah-langkah terarah ini jelas dirancang untuk memaksimalkan produksi dari wilayah kerja yang sudah ada. Tujuannya satu: meningkatkan produksi migas dalam jangka pendek hingga menengah.

Namun begitu, produksi saja tidak cukup. Yuliot menegaskan bahwa pemerintah juga sedang membangun infrastruktur pendukung. Mulai dari jaringan pipa transmisi dan distribusi migas dari wilayah kerja ke kawasan industri, peningkatan kapasitas kilang minyak dalam negeri, pembangunan tangki penyimpanan, hingga penambahan jumlah pengiriman kargo migas.

Pada acara yang sama, ditandatangani pula Wilayah Kerja Perkasa yang punya potensi sumber daya cukup besar, sekitar 228 MMBO atau setara 1,3 TCF. Perjanjian ini mencakup bonus tanda tangan sebesar US$300 ribu dan komitmen pasti total US$2,25 juta.

"Ini mencerminkan komitmen kuat para investor," ujarnya. Harapannya, langkah ini bisa mendongkrak produksi migas di wilayah Perkasa.

Dengan semua persiapan dan langkah strategis ini, pemerintah berharap target produksi yang dicanangkan bukan sekadar wacana. Tapi benar-benar bisa diwujudkan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar