Sheikh Hasina merupakan salah satu tokoh politik paling berpengaruh dalam sejarah Bangladesh. Dia adalah putri dari Sheikh Mujibur Rahman, yang dikenal sebagai Bapak Pendiri Bangladesh. Latar belakang keluarganya yang kuat membawanya ke dalam dunia politik.
Setelah ayahnya wafat dalam sebuah kudeta militer, Hasina menghabiskan beberapa tahun dalam pengasingan sebelum akhirnya kembali ke Bangladesh. Kepulangannya menandai awal dari karier politik panjangnya. Dia berhasil menduduki jabatan Perdana Menteri untuk pertama kalinya dari tahun 1996 hingga 2001. Kemudian, dia kembali memimpin negara itu dari tahun 2009 hingga 2024.
Selama masa pemerintahannya, Bangladesh mengalami berbagai kemajuan signifikan, terutama dalam hal pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, dan penguatan lembaga-lembaga negara.
Dampak Vonis Hukuman Mati terhadap Politik Bangladesh
Dengan total masa jabatan sekitar 15 tahun, Sheikh Hasina tercatat sebagai salah satu perdana menteri dengan masa bakti terpanjang di Bangladesh. Vonis hukuman mati ini menjadi titik balik dramatis yang diperkirakan akan membawa dampak besar bagi stabilitas politik dan proses rekonsiliasi nasional di Bangladesh.
Jika eksekusi benar-benar dilaksanakan, ini akan menjadi preseden pertama dalam sejarah Bangladesh di mana seorang mantan kepala pemerintah dihukum mati karena kejahatan terhadap kemanusiaan yang terkait dengan penanganan protes dalam negeri.
Latar Belakang Tuduhan dan Proses Pengadilan
Di balik kesuksesan pemerintahannya, karier politik Sheikh Hasina juga diwarnai berbagai kontroversi. Puncaknya terjadi pada pertengahan 2024, ketika gelombang protes yang dipelopori oleh mahasiswa meluas menjadi krisis nasional. Hasina dituduh sebagai pihak yang bertanggung jawab atas tindakan kekerasan terhadap para demonstran.
Jaksa penuntut dalam persidangan menyatakan bahwa pasukan keamanan di bawah pemerintahannya menggunakan senjata mematikan, termasuk helikopter, drone, dan persenjataan berat lainnya. Tuduhan utama yang dihadapi Hasina adalah perintah untuk melakukan "pembunuhan massal" terhadap para mahasiswa yang berdemo.
Artikel Terkait
Dari Migrasi Burung hingga Roti yang Digantung: Kisah Empati dalam Lintas Budaya
Kemenhaj Pacu Pelunasan Biaya Haji Khusus Jelang Tenggat Arab Saudi
Mobil Mazda Tabrak Pelajar di Tambora, Pengemudi Kabur dan Terserempet Kereta
Mister Aladin Gandeng Indodana, Voucher Liburan Hingga Rp100.000 Siap Diklaim