Tantangan Ahli Perencanaan Indonesia 2025: Strategi IAP Hadapi Perubahan Iklim & Disrupsi Teknologi

- Sabtu, 15 November 2025 | 10:45 WIB
Tantangan Ahli Perencanaan Indonesia 2025: Strategi IAP Hadapi Perubahan Iklim & Disrupsi Teknologi
Tantangan Ahli Perencanaan Indonesia: Perubahan Iklim hingga Disrupsi Teknologi

Inilah Tantangan Utama yang Dihadapi Ahli Perencanaan Indonesia Menurut IAP

Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Indonesia mengidentifikasi sejumlah tantangan kompleks yang harus dihadapi oleh para perencana wilayah dan kota di tanah air. Berbagai isu global dan lokal ini dinilai akan membentuk masa depan praktik perencanaan di Indonesia.

Ragam Tantangan Strategis di Sektor Perencanaan

Ketua Ikatan Ahli Perencanaan (IAP), Adriadi Dimastanto, menyoroti beberapa tantangan krusial. "Selain ketidakpastian perubahan iklim, ada tantangan biodiversity lost, lingkungan dan disrupsi karena teknologi," jelas Dimastanto, yang kerap disapa Dimas, dalam sebuah pernyataan resmi.

Penegasan ini disampaikan menyusul terpilihnya Dimastanto secara aklamasi sebagai Ketua IAP untuk periode kepemimpinan 2025-2028. Pemilihan tersebut berlangsung dalam Kongres Nasional IAP ke-XIV di Kepulauan Riau.

Strategi IAP Menjawab Tantangan Masa Depan

Menghadapi kompleksitas tantangan tersebut, IAP berkomitmen untuk melakukan peningkatan kapasitas secara berkelanjutan bagi seluruh anggotanya. Fokus utama adalah membekali para ahli perencanaan dengan kemampuan untuk menjawab tantangan perubahan iklim, keanekaragaman hayati, dan disrupsi teknologi.

"Kami akan memperkuat kapasitas anggota IAP. Advokasi-advokasi eksternal berujung untuk kepentingan anggota, tentunya sesuai dengan norma, aturan dan regulasi," tegas Dimastanto mengenai arah strategis organisasi.

Kolaborasi Kunci Kemajuan Perencanaan Indonesia

Dimastanto meyakini bahwa dengan semangat kolaborasi, IAP dapat memajukan kapasitas anggotanya dan pada akhirnya berkontribusi positif bagi kemajuan praktik perencanaan wilayah dan kota di Indonesia.

"Ketika anggota-anggota kita baik, maka praktik perencanaan wilayah dan kota di Indonesia juga akan baik. Muaranya ke sana, bagaimana kita memperbaiki kondisi di lapangan, tentu lewat anggota-anggota kita," pungkasnya menekankan hubungan sinergis antara kualitas anggota dan hasil perencanaan di lapangan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar