"Organisasinya, Projo, juga turun drastis pengaruhnya pasca dirinya di-reshuffle dari posisi Menkop," tutur Efriza.
Langkah Realistis tapi Pragmatis
Sebagai Magister Ilmu Politik dari Universitas Nasional (UNAS), Efriza menganggap langkah Budi Arie Setiadi bergabung ke Partai Gerindra adalah langkah yang paling realistis, namun di sisi lain sangat pragmatis.
Namun, keputusan pragmatis ini justru dinilai dapat memberikan dampak negatif yang tidak kecil. Bukan hanya bagi Budi Arie secara personal, tetapi juga bagi Partai Gerindra dan Presiden Prabowo Subianto.
"Realistis bagi Budi Arie dan Projo untuk bergabung ke Gerindra, tetapi tidak secara pribadi bagi Presiden dan Ketum Partai Gerindra. Karena ketika mengiyakan Budi Arie dan Projo bergabung, nilai positifnya kecil dan malah berpotensi menimbulkan polemik besar di publik," pungkas Efriza.
Dengan demikian, wacana bergabungnya Budi Arie ke Gerindra bukan hanya sekadar perpindahan politik biasa, melainkan sebuah langkah yang penuh risiko dan konsekuensi bagi semua pihak yang terlibat.
Artikel Terkait
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir
Analis Bongkar Agenda Terselubung di Balik Janji Kerja Mati-Matian Jokowi untuk PSI
Kata Cangkem Dahnil Anzar Picu Gelombang Tuntutan Pencopotan