KBI Pacu Produktivitas Petani Kedelai dan Kopi Lewat Resi Gudang

- Kamis, 18 Desember 2025 | 20:50 WIB
KBI Pacu Produktivitas Petani Kedelai dan Kopi Lewat Resi Gudang

PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) punya agenda yang cukup padat akhir-akhir ini. Sebagai bagian dari Holding BUMN Danareksa, mereka tak cuma fokus pada angka-angka transaksi. Di lapangan, komitmen mereka justru lebih banyak terlihat pada upaya mendongkrak produktivitas komoditas Resi Gudang, sekaligus memberdayakan petani dan masyarakat sekitar. Intinya, bisnis yang berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial.

Menurut Adiyasa Suhadibroto, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT KBI, semua inisiatif ini dijalankan dengan pendekatan kolaborasi. Mereka bekerja sama dengan petani di lahan yang sudah ada, tanpa membuka hutan atau area baru.

"PT KBI percaya bahwa kemajuan bisnis harus sejalan dengan pemberdayaan komunitas dan kelestarian lingkungan,"

katanya, Kamis lalu. Prinsip itu, ujarnya, jadi landasan utama.

Nah, salah satu wujud nyatanya adalah program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang terintegrasi. Bukan sekadar bagi-bagi bantuan, mereka berusaha membangun ekosistem yang mandiri dan bisa berjalan sendiri dalam jangka panjang. Ambil contoh di sektor kedelai. Melalui program rolling fund, KBI menggandeng UGM dan Asosiasi Masyarakat Kedelai Lokal Nusantara.

Hasilnya? Pada Batch II, 73 petani berhasil mencatatkan lonjakan hasil panen yang signifikan, dari 9 ton menjadi 21 ton. Mutunya juga naik hampir 30 persen. Kesuksesan ini membuat mereka bersiap melanjutkan ke Batch III, dengan harapan bisa memperkuat mata rantai pasok kedelai lokal di Klaten dan Sukoharjo, Jawa Tengah.

Namun begitu, perhatian mereka tidak berhenti di kedelai. Di Garut, KBI melanjutkan komitmen reforestasi dan pengembangan komoditas berkelanjutan lewat penanaman benih kopi batch II. Mereka berkolaborasi dengan Yayasan Tanah Air Semesta, yang juga bagian dari Klasik Beans Kopi. Program ini bukan soal perluasan lahan, melainkan bagian dari perjalanan panjang membangun ekosistem kopi yang lestari dan bernilai ekonomi tinggi.

Perjalanan itu dimulai bertahap. Tahun 2024, mereka menginisiasi reforestasi 500 tanaman pohon kopi dan endemik untuk batch I. Lalu di awal Desember 2025, penanaman batch II sebanyak 600 benih sudah terlaksana. Fokusnya jelas: mendorong kopi sebagai komoditas resi gudang. Dengan instrumen itu, petani punya kendali lebih baik atas harga jual, yang pada akhirnya diharapkan bisa mendongkrak kesejahteraan mereka.

Adiyasa menegaskan, semua program ini adalah bentuk investasi sosial perusahaan.

“Dukungan kepada petani penggarap kedelai dan kopi adalah investasi kami untuk ketahanan pangan dan ekonomi kerakyatan,"

ujarnya lagi.

Di sisi lain, KBI juga tak tinggal diam saat bencana melanda. Merespons banjir bandang, mereka berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan yang diinisiasi Danareksa. Bantuan 5 ton beras dan paket sembako disalurkan kepada ribuan keluarga terdampak di sekitar Kawasan Industri Medan. Langkah ini sekaligus mempertegas peran BUMN untuk hadir langsung di tengah kesulitan masyarakat.

Sementara itu, dari sisi kinerja operasional, hingga November 2025 KBI mencatat pertumbuhan yang positif. Volume transaksi Multilateral tumbuh 24 persen, sementara transaksi Bilateral naik 22 persen secara tahunan. Sebagai Pusat Registrasi Resi Gudang, mereka juga telah mendaftarkan 35.767 ton komoditas yang tersebar di gudang-gudang di seluruh Indonesia. Angka-angka itu, bersama program pemberdayaan di lapangan, menggambarkan dua sisi yang mereka jalani: bisnis yang sehat dan tanggung jawab yang nyata.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler