Kritik pedas datang dari seorang pegiat media sosial menyusul kehadiran Joko Widodo di Rakernas PSI di Makassar akhir pekan lalu. Yang jadi sorotan bukan cuma soal politiknya, tapi kondisi fisik mantan presiden itu.
Dokter Tifa, begitu Tifauziah Tyassuma biasa disapa, secara terbuka mempertanyakan keputusan Jokowi untuk tetap tampil di depan publik. Menurut pengamatannya, Jokowi terlihat tidak sedang dalam kondisi prima. "Mengapa dalam keadaan sakit, wajah ancur, body ringkih, gesture tertatih, dia masih hobi tampil?" tulisnya di media sosial pada Minggu (1/2/2026).
Unggahan itu langsung mencuri perhatian. Ia menyoroti serangkaian aktivitas padat Jokowi selama acara: naik panggung, berfoto, menerima tamu, menghadiri agenda demi agenda. Bagi Dokter Tifa, semua itu bukan sekadar dukungan untuk partai.
Ia punya tafsir lain yang lebih tajam.
"Karena dia, menurut keyakinan saya, menjalankan strategi playing victim," katanya.
Jokowi, dalam pandangannya, sengaja membangun narasi sebagai korban seorang yang terus 'dianiaya' oleh kritik dari RRT (Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Tifauziah Tyassuma sendiri) meski sedang sakit. Dengan kata lain, panggung PSI itu dimanfaatkan untuk menampilkan sosok yang tetap tegar di tengah penderitaan.
"Pada dasarnya, dia memaksakan diri tampil di panggung PSI bukan untuk mendukung partai, tetapi menggunakan panggung itu untuk tampil sebagai ‘si sakit yang terus disakiti’," lanjutnya.
Hal lain yang ia catat adalah pidato Jokowi. Suara yang parau, dan satu frasa yang diulang-ulang. "Perhatikan kata-katanya yang diulang-ulang: ‘Saya masih sanggup, saya masih sanggup, saya masih sanggup’," tulis Dokter Tifa.
Pengulangan itu, menurutnya, adalah ekspresi psikologis yang mungkin tak sepenuhnya disadari, namun terekam jelas. Sayangnya, alih-alih simpati, yang muncul justru respons sinis dari sebagian netizen. Kondisi kesehatan, dalam analisisnya, telah berubah menjadi komoditas politik.
Di akhir kritiknya, Dokter Tifa menyampaikan refleksi yang cukup getir tentang ambisi. "Dunia baginya seakan tak pernah cukup, dan yang membatasi tampaknya hanya mati," tutupnya. Sebuah pernyataan yang meninggalkan kesan mendalam sekaligus pertanyaan tentang batas antara keteguhan dan pemaksaan diri di panggung kekuasaan.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir