Pertemuan di Solo antara Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis dengan mantan Presiden Joko Widodo, yang kemudian diikuti terbitnya SP3 untuk mereka, ternyata menyisakan banyak tanya. Kasus soal ijazah ini kini terasa bukan lagi sekadar perkara hukum biasa. Ada aroma lain yang lebih kuat tercium.
Menurut pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, pertemuan itu jelas bukan sekadar obrolan santai atau silaturahmi belaka.
"Nuansa intrik politik masih sangat kental mewarnai," ujarnya kepada RMOL, Senin lalu.
Isu yang beredar di kalangan tertentu bahkan lebih serius. Ada yang menyebut soal tawaran proyek bernilai triliunan rupiah, hingga janji perjalanan ke luar negeri. Meski belum terbukti, desas-desus semacam itu sulit diabaikan begitu saja.
Efriza sendiri meyakini bahwa yang terjadi adalah sebuah bentuk kompromi.
"Kompromi itu memungkinkan yang terjadi," katanya singkat.
Lebih jauh, akademisi Unas ini melihat penyelesaian kasus kedua pengacara itu bukan akhir cerita. Ia menilai ini bisa jadi langkah awal, sebuah modal untuk melicinkan jalan bagi kepentingan politik keluarga Jokowi menuju Pemilu 2029. Alasannya sederhana: daya tarik Jokowi di mata publik dinilainya masih sangat besar.
"Nama Jokowi masih santer di telinga publik. Nilai jualnya bahkan masih tinggi, sekalipun pernah didepak dari PDI Perjuangan," pungkas Efriza.
Jadi, di balik SP3 yang terbit, ada pertanyaan besar yang menggantung. Apakah ini murni keputusan hukum, atau ada permainan lain yang sedang disusun jauh lebih matang? Waktu yang akan menjawabnya.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Terima Laporan Strategis dari Wakil Ketua DPR Usai Kunjungan ke Rusia dan Prancis
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT