Polisi Kepri Dipecat Usai Aniaya Pacar Hamil dan Ogah Bertanggung Jawab

- Selasa, 23 Desember 2025 | 22:00 WIB
Polisi Kepri Dipecat Usai Aniaya Pacar Hamil dan Ogah Bertanggung Jawab

Seorang anggota polisi di Kepulauan Riau akhirnya dipecat. Ia tak lagi dianggap layak menyandang pangkat setelah terbukti melakukan pelanggaran berat. Kasusnya? Menganiaya pacarnya sendiri, yang juga sedang mengandung anaknya, lalu ogah bertanggung jawab.

Keputusan pemberhentian tidak dengan hormat itu dijatuhkan oleh Komisi Kode Etik Profesi Polda Kepri, Selasa (23/12/2025) lalu. Sidang putusan itu sendiri digelar di pagi hari, dan dihadiri langsung oleh sang korban, seorang perempuan berinisial FM (28).

“Majelis hakim menjatuhkan putusan PTDH terhadap yang bersangkutan,” ujar Kabid Propam Polda Kepri, Kombes Pol. Eddwi Kurniyanto, di Batam.

Menurut Eddwi, Brigadir YAAS terbukti melanggar sejumlah aturan. Rumit memang pasal-pasalnya, tapi intinya jelas: ia dianggap mencemarkan martabat institusi. Pelanggarannya masuk kategori berat.

Dari fakta persidangan terungkap, YAAS punya hubungan asmara dengan FM. Namun, hubungan itu melenceng. Mereka terbukti berhubungan badan di luar nikah suatu tindakan asusila yang bertentangan dengan norma dan etika kepribadian anggota Polri. Hasilnya, FM hamil.

Masalahnya, YAAS tak kunjung memberi kepastian pernikahan. Malah, ia melakukan kekerasan terhadap sang calon istri. Inilah yang kemudian memicu laporan dan proses etik.

“Pelanggaran yang dilakukan termasuk pelanggaran berat,” tegas Eddwi.

Namun begitu, jalan kasus ini mungkin belum benar-benar berakhir. Usai putusan dibacakan, Brigadir YAAS langsung menyatakan akan banding. Majelis hakim pun memberi waktu tiga hari kepadanya untuk mengajukan permohonan resmi ke Komisi Banding KKEP.

Di sisi lain, korban, FM, menyambut baik keputusan ini. Ia merasa mendapat secercah keadilan.

“Saya berterima kasih kepada Polda Kepri, Propam juga, saya mendapatkan keadilan,” kata FM.

Tapi, harapannya belum sepenuhnya terpenuhi. Masih ada dua laporan polisi lainnya yang ia buat, terkait penganiayaan dan pelecehan seksual, yang kini masih ditangani Ditreskrimum Polda Kepri. FM berharap laporan-laporan itu segera diproses ke pengadilan.

“Saya harapkan dua laporan lainnya juga diproses agar tidak ada lagi korban berikutnya,” tuturnya.

Kasus ini jadi catatan kelam lain. Sebuah pelajaran tentang integritas dan tanggung jawab yang ternoda, yang berakhir dengan hilangnya pangkat dan kehormatan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar