Usai pembacaan sumpah, dilaksanakan kirab atau arak-arakan. PB XIV Hamengkunegoro melakukan perjalanan keliling keraton dengan diiringi oleh puluhan prajurit. Menurut Komandan Utama Prajurit Keraton Kasunanan Solo, setidaknya ada sekitar 90 prajurit yang terlibat dalam prosesi bersejarah ini.
Kesembilan puluh prajurit tersebut tergabung dalam sembilan kelompok regu yang berbeda. Masing-masing regu memiliki nama dan fungsi khusus, seperti Bergodo Prawiroanom, Jayengasto, Sorogeni, Joyosuro, Doropati, Baki, dan Panyutro. Jumlah personil setiap regu bervariasi, mulai dari lima hingga dua puluh prajurit, dengan rata-rata sekitar dua belas prajurit yang bertugas pada hari penobatan.
Tugas Prajurit Sebagai Cucuk Lampah
Dalam upacara adat Keraton Solo, para prajurit memiliki peran vital sebagai cucuk lampah. Tugas ini berarti mereka bertindak sebagai penunjuk jalan dan pengawal bagi Sri Susuhunan selama prosesi kirab berlangsung. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai pengawal, tetapi juga sebagai penjaga adat dan tradisi keraton yang telah turun-temurun.
Dengan selesainya penobatan ini, Gusti Purboyo resmi memegang tampuk kepemimpinan di Keraton Surakarta sebagai PB XIV. Peristiwa budaya ini menjadi momen penting dalam melestarikan warisan sejarah dan tradisi Kasunanan Surakarta.
Artikel Terkait
Ayah Prada Lucky Diamankan di Pelabuhan, Istri Laporkan KDRT
Janji P3K Berujung Pengkhianatan: Suami Nikahi Rekan Kerja Saat Istri Rawat Ibu Sakit
Tragedi di Minneapolis: Seorang Ibu Tewas Ditembak ICE, Video Bantah Klaim Pembelaan Diri
Gagal Tes Pramugari, Wanita Ini Nekat Terbang Pakai Seragam Palsu