Piala Dunia memang aneh. Selama 120 menit ia mengajarkan kerja sama. Sebelas orang berlari bersama, berkeringat bersama, bahkan kadang dimaki bersama. Namun ketika semua itu belum cukup menentukan pemenang, sepak bola tiba-tiba berubah menjadi urusan satu orang.
Satu bola. Satu titik putih.
Belanda sudah merasakannya. Jerman menyusul. Dua negara dengan sejarah besar itu akhirnya pulang lewat cara yang paling sunyi: adu penalti.
Ironisnya, selama dua jam kita menyebut sepak bola sebagai permainan tim. Begitu masuk adu penalti, semua berubah. Yang berjalan menuju titik putih hanya satu orang. Sorak penonton mendadak terasa jauh, sementara isi kepala justru semakin berisik.
Mungkin memang begitu hidup. Ada persoalan yang bisa kita hadapi bersama. Tetapi selalu ada keputusan yang harus kita ambil sendirian. Memilih jalan hidup, meminta maaf, menerima kegagalan, atau memulai lagi setelah jatuh. Semua orang, cepat atau lambat, akan berdiri di titik putihnya sendiri.
Saya teringat Roberto Baggio, sosok yang gagal pada final Piala Dunia 1994. Namun dunia lebih lama mengingat kalimatnya daripada tendangannya.
"Hanya mereka yang berani mengambil penalti yang mungkin gagal."
Bukankah itu juga pelajaran hidup?
Orang yang tidak pernah mencoba memang tidak akan gagal. Tetapi ia juga tidak akan pernah menjadi penentu cerita.
Andrea Pirlo punya pandangan berbeda. Menurutnya, tekanan terbesar justru berada di pundak penjaga gawang. Ia harus menebak masa depan hanya dalam sepersekian detik. Kadang bukan teknik yang menentukan, melainkan keberanian mengambil keputusan.
Lalu ada Albert Camus, filsuf yang pernah menjadi penjaga gawang. Ia berkata, "Semua yang saya ketahui tentang moralitas dan kewajiban saya pelajari dari sepak bola." Saya membayangkan, seandainya Camus menyaksikan Belanda dan Jerman tersingkir lewat adu penalti, mungkin ia akan berkata bahwa di titik putih itulah manusia paling jujur memperlihatkan dirinya.
Pep Guardiola menyebut adu penalti sebagai ujian pengendalian emosi. Saya sepakat. Pada jarak sebelas meter itu, lawan terbesar bukanlah penjaga gawang. Melainkan diri sendiri.
Karena itu saya tidak pernah benar-benar membenci adu penalti. Ya, ia memang kejam. Arsène Wenger bahkan pernah mengatakan bahwa adu penalti bukanlah sepak bola. Mungkin benar. Seratus dua puluh menit kerja keras bisa berakhir hanya dalam lima tendangan.
Tetapi bukankah hidup juga sering begitu? Kadang perjalanan panjang ditentukan oleh satu keputusan. Satu langkah. Satu keberanian.
Belanda pulang. Jerman menyusul.
Namun mereka mengingatkan kita bahwa menjadi manusia bukan berarti selalu berhasil mencetak gol. Kadang, yang lebih penting adalah tetap berjalan menuju titik putih, meski kita tahu kemungkinan gagal selalu ada.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak hanya mengingat mereka yang berhasil mencetak gol. Sering kali, sejarah lebih lama mengenang mereka yang tetap berani menendang.
Artikel Terkait
Birokrasi Berbelit dan Diskriminasi Dorong Tenaga Kerja Asing Tinggalkan Jerman
Jaksa Jerman: Ledakan Pipa Gas Nord Stream Didalangi Ukraina
Kanselir Merz Dihujani Kritik Usai Unggah Dukungan untuk Timnas yang Kalah
Jaksa Jerman Tuding Otoritas Ukraina di Balik Ledakan Nord Stream