Sejarah Baru Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Akhiri Penantian 92 Tahun

- Kamis, 25 Juni 2026 | 12:44 WIB
Sejarah Baru Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Akhiri Penantian 92 Tahun

Stadion Lumen Field, Seattle, menjadi saksi sejarah baru bagi sepak bola Afrika. Untuk pertama kalinya dalam 92 tahun penantian dan sembilan percobaan, Timnas Mesir akhirnya merasakan kemenangan di Piala Dunia. Mohamed Salah menjadi aktor utama di balik kemenangan 3-1 atas Selandia Baru yang membawa The Pharaohs ke ambang babak 32 besar Piala Dunia 2026.

Gol Penentu Sang Kapten

Sempat tertinggal lebih dulu melalui gol kejutan Selandia Baru di babak pertama, Mesir bangkit di babak kedua. Mohamed Salah mencetak gol penyeimbang pada menit ke-57 melalui sepakan kaki kirinya yang khas dari dalam kotak penalti. Gol itu membangkitkan semangat skuad asuhan Hossam Hassan.

Sepuluh menit berselang, Salah kembali mencatatkan namanya di papan skor kali ini bukan sebagai pencetak gol, melainkan sebagai pengirim assist. Tendangan sudutnya disambut dengan tandukan akurat oleh Trezeguet yang menggandakan keunggulan Mesir. Selandia Baru tak mampu bangkit setelah kebobolan gol ketiga di menit-menit akhir.

Kemenangan ini memutus rantai panjang kegagalan Mesir di pentas Piala Dunia. Sejak debut mereka pada 1934, The Pharaohs selalu pulang tanpa kemenangan dalam delapan pertandingan sebelumnya. Mereka pernah bermain di Piala Dunia 1990 di Italia dan 2018 di Rusia, tetapi tak pernah sekalipun meraih tiga poin penuh. Kini, catatan kelam itu resmi terhapus dari buku sejarah.

Beban Sejarah yang Terangkat

Mohamed Salah mengakui bahwa kemenangan ini memiliki arti yang sangat besar bagi dirinya dan seluruh rakyat Mesir. "Pencapaian luar biasa bagi seluruh pemain. Ini kemenangan besar. Suasananya luar biasa. Pertandingan berikutnya sangat penting," ujar Salah dikutip dari BBC Sport.

Sang kapten telah melalui perjalanan panjang yang penuh kekecewaan di Piala Dunia. Pada edisi 2018 di Rusia, ia tampil dalam kondisi cedera bahu parah dan harus puas duduk di bangku cadangan saat Mesir kalah dari Uruguay di laga pembuka. Gol penaltinya hanya menjadi hiburan saat negaranya tersingkir di fase grup setelah kalah dari Arab Saudi.

Empat tahun kemudian, Mesir gagal total lolos ke Piala Dunia 2022 di Qatar. Selama hampir satu dekade, Salah harus menanggung kekecewaan dan tekanan luar biasa sebagai bintang utama timnas. "Saya bahkan mendapat telepon dari Menteri Kesehatan Mesir," kenang Dr Mohamed Aboud, dokter timnas, saat dimintai komentar pada 2018 soal cedera Salah yang mengancam partisipasinya di Piala Dunia, dikutip dari BBC Sport.

Kini, semua beban itu terangkat. Gol ke-68 Salah untuk negaranya dalam 118 penampilan hanya satu gol lagi dari rekor pelatih Hossam Hassan sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa dianggap banyak pihak sebagai gol terpenting dalam karier internasionalnya.

Peluang ke Babak 32 Besar

Dengan hasil ini, posisi Mesir di Grup F semakin terbuka lebar. Satu poin dari laga terakhir melawan Iran sudah cukup untuk memastikan langkah mereka ke babak 32 besar. Bahkan tanpa kemenangan pun, peluang mereka tetap ada tergantung hasil pertandingan lain.

Pelatih Hossam Hassan patut mendapat kredit atas kebangkitan tim ini. Sebelum pertandingan, ia bahkan harus angkat bicara untuk membantah kabar keretakan hubungan dengan Salah setelah menarik sang kapten saat laga imbang melawan Belgia. Keputusan Hassan untuk tetap mempertahankan Salah sebagai poros serangan terbukti tepat.

Mantan manajer Tottenham Hotspur Ange Postecoglou memberikan analisisnya kepada ITV: "Jika ada keraguan tentang dampak Mo terhadap tim ini, Anda masih bisa melihatnya. Mereka harus menghadapi kesulitan dan pemain besar mereka tampil itu akan memberi mereka kepercayaan diri besar. Anda membutuhkan pemain besar Anda untuk tampil jika ingin maju."

Sementara itu, eks pemain sayap Jamaika Jobi McAnuff menambahkan, "Tepat saat dibutuhkan, Mo Salah berdiri untuk negaranya," dikutip dari BBC Sport.

Kemenangan ini tak hanya mengubah peta persaingan di Grup F, tetapi juga menjadi momentum kebangkitan sepak bola Mesir di panggung global. Setelah gagal di Piala Afrika dalam beberapa edisi terakhir runner-up 2017 dan 2021 The Pharaohs kini memiliki panggung baru untuk membuktikan kualitas mereka. Momentum ini juga istimewa mengingat Mesir tergabung di grup berat bersama Belgia dan Iran.

Generasi Mesir sebelum Salah era Aboutrika, Mido, dan Zidan sukses merebut tiga gelar Piala Afrika beruntun antara 2006 dan 2010. Namun, di Piala Dunia mereka pun tak mampu berbicara banyak. Kini, giliran generasi Salah untuk menulis ulang sejarah. Satu laga melawan Iran akan menentukan apakah kisah Mesir di Piala Dunia 2026 akan terus berlanjut.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags