Di pusat Kota Makassar, tidak jauh dari Pantai Losari, terdapat dua ruas jalan yang saling bersebelahan: Jalan Datu Museng dan Jalan Maipa. Nama keduanya bukan sekadar penanda lokasi, melainkan pengingat akan sebuah kisah cinta yang telah mengakar dalam tradisi lisan masyarakat Makassar selama berabad-abad.
Datu Museng, yang juga dikenal sebagai I Baso Mallarangang Datu Busing, adalah seorang bangsawan Makassar yang tumbuh di Sumbawa. Kisahnya bersama Maipa Deapati, putri Datu Taliwang, Sultan Sumbawa pada era 1700-an, berkembang menjadi cerita kepahlawanan yang sarat asmara, kesetiaan, dan pengorbanan.
Perjalanan Hidup Datu Museng
Menurut catatan Sistem Informasi Cagar Budaya Kota Makassar, Datu Museng sejak kecil meninggalkan tanah asalnya bersama sang kakek, Addengareng. Kepergian ini terkait dengan situasi politik setelah Gowa-Tallo jatuh ke tangan VOC. Mereka menyeberang ke Sumbawa untuk mencari perlindungan, dan di sana Datu Museng menghabiskan masa kecil hingga dewasa.
Di Sumbawa, ia bertemu dengan Maipa Deapati saat keduanya menempuh pendidikan agama. Pertemuan itu menumbuhkan hubungan yang kemudian menjadi inti dari kisah mereka. Namun, cinta mereka tidak berjalan mulus. Maipa telah dijodohkan dengan Pangeran Mangngalasa, putra mahkota Kerajaan Lombok.
Datu Museng kemudian pergi ke Mekkah dan Madinah untuk berguru. Setelah kembali, ia membantu menyembuhkan Maipa yang jatuh sakit. Akhirnya, Sultan Sumbawa merestui hubungan mereka. Datu Museng dan Maipa menikah, dan Datu Museng dipercaya menjadi panglima perang Kerajaan Sumbawa.
Kembali ke Makassar dan Perlawanan
Kisah mereka memasuki babak baru ketika Datu Museng mendapat perintah untuk membantu Kerajaan Gowa yang berkonflik dengan Belanda. Ia kembali ke Makassar bersama Maipa. Namun, kecantikan Maipa menarik perhatian Tumalompoa, tokoh yang digambarkan memiliki hubungan dengan kekuasaan Belanda. Konflik pun berkembang menjadi perlawanan.
Dalam sinrilik, sastra lisan Makassar, Datu Museng digambarkan menghadapi sejumlah pasukan dan tubarani dengan menggunakan badik bernama Matatarampa'na. Kisah ini mulai berkembang sejak 1765 dan disadur dalam bentuk tulisan oleh misionaris Belanda Benjamin Matthes pada 1852, mencapai sekitar 1.150 baris. Karena itu, sebagian dari kisah ini merupakan narasi sinrilik yang diwariskan masyarakat, bukan laporan sejarah faktual.
Akhir yang Tragis
Bagian paling terkenal dari kisah ini adalah akhir perjalanan mereka. Maipa Deapati, yang terancam jatuh ke tangan pihak lawan, memilih mengakhiri hidupnya melalui tangan Datu Museng. Datu Museng memenuhi permintaan itu dan berjanji akan menyusul setelah pertempuran selesai. Menjelang Magrib, ia menyerahkan diri pada takdir dan meminta Karaeng Galesong mengakhiri hidupnya.
Akhir tragis ini membuat mereka sering disebut sebagai "Romeo dan Juliet dari Makassar", simbol kesetiaan dan pengorbanan. Kisah mereka juga diangkat ke dalam film produksi Rere Art2tonic yang pertama kali rilis pada 2018, dan kembali tayang di bioskop Makassar pada 7 November 2024 dalam rangka memperingati HUT Kota Makassar ke-417.
Jejak Fisik di Makassar
Jejak cerita ini masih dapat ditemukan secara fisik. Makam Datu Museng berada di ujung Jalan Datu Museng, tepat di seberang Rumah Sakit Stella Maris. Sementara Jalan Maipa berada bersebelahan dengan Jalan Datu Museng. Kedekatan kedua ruas jalan ini menjadi simbol bahwa dua nama yang dalam cerita terpisah oleh takdir kini berdampingan dalam ruang kota.
Jalan Datu Museng sendiri merupakan ruas sepanjang sekitar 300 meter yang menghubungkan kawasan Jalan Penghibur dekat Pantai Losari ke arah timur menuju persimpangan Jalan Somba Opu dan Jalan Lamaddukelleng. Jalan ini menerapkan sistem satu arah dan menjadi akses menuju IGD serta poliklinik Rumah Sakit Stella Maris.
Kini, suasana Jalan Datu Museng jauh berbeda dari gambaran Makassar dalam cerita Datu Museng. Kawasan ini dipenuhi aktivitas kuliner, terutama seafood, karena letaknya yang dekat dengan pesisir. Orang yang datang ke sini tidak hanya mencari jejak sejarah, tetapi juga menikmati suasana pusat kota dan kuliner laut.