Degradasi Semen Padang FC ke Liga 2 musim depan menjadi pukulan telak yang tak hanya dirasakan oleh para pendukung setianya, tetapi juga membuka tabir realita pahit di balik layar klub kebanggaan Sumatra Barat tersebut. Anggota DPR RI yang dikenal dekat dengan tim berjuluk Kabau Sirah itu, Andre Rosiade, buka suara mengenai kondisi klub yang disebutnya mengalami krisis finansial akut, hingga ia harus merogoh kocek pribadi untuk menggaji direktur teknik.
Kepastian degradasi Semen Padang FC didapat setelah mereka takluk 0-1 dari Dewa United di Banten International Stadium, Minggu (3/5/2026) malam. Gol tunggal Noah Sadaoui pada menit ke-31 menjadi penentu kekalahan yang sekaligus mengunci nasib tim di zona merah, dengan raihan poin maksimal yang tak lagi mampu mengejar para pesaing di papan atas klasemen.
Andre Rosiade menegaskan bahwa kegagalan musim ini murni disebabkan oleh faktor internal tim, bukan karena intervensi pihak luar seperti yang sempat terjadi pada musim sebelumnya. Ia mengaku sengaja memilih bungkam karena menyadari kekalahan kali ini adalah akibat dari kesalahan sendiri.
“Saya ingin menyampaikan, saya tidak hilang. Tapi tidak mungkin saya bersuara, kalau memang kekalahan kita disebabkan karena kesalahan kita sendiri. Dan itulah yang terjadi di musim ini,” ujarnya.
Ia bahkan membandingkan situasi musim ini dengan musim lalu yang sempat diwarnai isu nonteknis. “Berbeda dengan musim lalu, di mana ada indikasi, tangan-tangan yang bermain, ingin mendegradasikan kita. Sedangkan tahun ini, kualitas wasit meningkat, bahkan ada wasit asing,” tambahnya.
Dalam pernyataannya, Andre juga meluruskan posisinya di klub. Ia menegaskan bukan pemilik atau bagian dari manajemen, melainkan suporter yang memiliki tanggung jawab moral sejak kecil. “Siapa Andre Rosiade? Andre Rosiade sama statusnya dengan suporter-suporter yang lain. Saya suporter sejak usia 3 tahun,” ucapnya.
Meski demikian, ia mengakui turut terlibat membantu klub, terutama saat krisis finansial melanda sejak 2017 dan memuncak pada 2019. Saat itu, klub nyaris dijual sebelum ia ikut turun tangan. “Saya meminta ini jangan dijual, lalu saya diminta membantu mencarikan dana agar tim bisa berkompetisi,” katanya.
Masalah keuangan menjadi sorotan utama dalam pengakuan Andre. Musim ini, klub mengalami defisit besar. Dukungan dari PT Semen Padang sebagai pemilik hanya sekitar Rp15 miliar, sementara kebutuhan operasional jauh lebih besar. “Saya menyediakan dan membantu sponsor hampir 20 miliar rupiah,” ungkapnya.
Biaya pertandingan kandang yang mencapai sekitar Rp211 juta per laga tidak sebanding dengan pemasukan tiket yang hanya berkisar Rp130 juta hingga Rp180 juta. “Faktanya mayoritas pertandingan kandang kita nombok,” ujarnya.
Ia juga menyinggung minimnya kontribusi finansial dari suporter yang rata-rata hanya sekitar Rp30 juta per pertandingan. Kondisi ini, menurutnya, jauh dari standar klub profesional. “Harusnya pertandingan kandang jadi pemasukan, tapi dengan tiket murah, kita tidak dapat apa-apa,” tegasnya.
Lebih jauh, Andre mengungkap bahwa sejumlah operasional klub bahkan ditopang secara pribadi. “Saya taruh Braditi Moulevey untuk komisaris, tidak dibayar. Yeyen Tumena juga saya gaji pribadi,” katanya.
Meski banyak terlibat secara finansial, ia menegaskan tidak mencampuri urusan teknis tim. “Yang mencari pemain itu manajemen, keputusan juga manajemen dan pelatih,” ujarnya.
Ia juga membantah tudingan politisasi klub. “Saya tidak pernah datang ke acara kelompok suporter untuk politik. Jangan mengada-ada,” katanya.
Di tengah situasi sulit, Andre tetap memaparkan rencana jangka panjang, termasuk renovasi Stadion Haji Agus Salim dengan kapasitas 12.000 hingga 13.000 kursi. “Stadion itu kita yang perbaiki, dari jogging track sampai videotron,” ujarnya. Proyek tersebut disebut telah mendapat dukungan APBN dan ditargetkan mulai dibangun pertengahan tahun. “Insyaallah Juni-Juli sudah mulai dibangun, satu tahun selesai,” katanya optimistis.
Untuk bangkit dari Liga 2, Andre menegaskan kebutuhan dana tidak kecil. “Untuk juara Liga 2, dibutuhkan minimal 25 miliar rupiah,” tegasnya. Saat ini, kemampuan pendanaan klub diperkirakan hanya berada di kisaran Rp10–15 miliar dan masih bergantung pada persetujuan berbagai pihak. “Apakah Semen Indonesia Group bisa membantu? Apakah disetujui? Itu belum tentu,” ujarnya.
Ia pun mengaku kemungkinan kembali diminta mencarikan dana tambahan, meski di sisi lain justru kerap disalahkan. “Orang yang membantu mencarikan anggaran malah disalahkan?” katanya.
Menutup pernyataannya, Andre mengajak seluruh suporter untuk bersatu dan tidak saling menyalahkan. “Nasi sudah jadi bubur. Semua sedih, saya juga sedih,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya introspeksi bersama demi masa depan klub. “Faktanya dukungan sangat minim, itu terlihat dari penjualan tiket,” tambahnya. “Mari kita jagolah lai, sama-sama. Kita introspeksi dan bekerja lebih keras lagi,” tutupnya.
Degradasi ini menjadi titik nadir bagi Semen Padang FC, namun juga bisa menjadi awal kebangkitan. Dengan catatan, dukungan finansial dan solidaritas semua pihak benar-benar terbangun untuk membawa Kabau Sirah kembali ke kasta tertinggi.
Artikel Terkait
Borneo FC Incar Kemenangan atas Persita demi Jaga Asa Juara, Bek Asing Klaim Tim Tanpa Tekanan
Megawati Hangestri Kembali Masuk Skuad Hyundai Hillstate, Status Transfer Masih Misterius
Persebaya Incar Enam Pemain PSM Makassar, Mayoritas Berstatus Bebas Transfer
PSM Makassar Menang 2-1 atas Bhayangkara FC, Bek Aloisio Soares Yakin Timnya Lolos dari Degradasi