JAKARTA Musim kedua Ole Romeny di Oxford United ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Alih-alih makin bersinar, ia malah terjebak dalam situasi yang berat. Apalagi timnya harus menerima kenyataan pahit: degradasi ke EFL League One.
Padahal, di laga pamungkas melawan Sheffield Wednesday, Oxford menang meyakinkan 4-1. Tapi hasil pertandingan lain membuat mereka tetap gagal menyusul West Bromwich Albion di klasemen. Poin mereka sudah tidak bisa lagi mengejar ketertinggalan.
Manajemen klub pun angkat bicara lewat pernyataan resmi di media sosial:
"Meskipun para pemain menunjukkan performa yang kuat, menyusul hasil pertandingan lain, degradasi klub dari Championship telah dipastikan. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada para pendukung kami atas dukungan mereka yang tak tergoyahkan sepanjang musim ini."
Di tengah kekacauan itu, peran Romeny justru makin menciut. Dalam laga kontra Sheffield Wednesday, ia cuma dimasukkan sebagai pemain pengganti oleh pelatih Matt Bloomfield di menit ke-77. Selama 13 menit di lapangan, kontribusinya? Nyaris tidak ada. Hanya enam sentuhan, tanpa satu pun tembahan ke gawang.
Kalau kita lihat statistik sepanjang musim, angka-angka itu bicara banyak. Dari 16 penampilan di Championship, Romeny cuma mengumpulkan 355 menit bermain. Dua kali starter, dan belum sekalipun mencetak gol. Ini jelas menurun drastis dibanding musim sebelumnya 14 pertandingan, 590 menit, tujuh kali starter, dan satu gol.
Salah satu penyebab utamanya? Cedera serius di awal musim. Patah tulang memaksanya absen dalam 13 pertandingan. Ia baru kembali merumput pada November saat menghadapi Stoke City.
Namun begitu, setelah pulih pun situasinya tidak otomatis membaik. Memasuki Maret, ia bahkan sempat tidak masuk skuad selama enam pertandingan berturut-turut. Baru kemudian tampil singkat hanya satu menit melawan Watford.
Kondisi ini jelas memicu spekulasi soal masa depannya. Menit bermain terbatas, performa belum maksimal muncul kabar bahwa Romeny mungkin akan mencari tantangan baru. Ada rumor ia bakal menjajal kompetisi Super League musim depan. Memang belum ada konfirmasi resmi, tapi kalau lihat situasinya, wajar saja jika ia mulai berpikir.
Di satu sisi, bertahan di League One bersama Oxford United bisa jadi peluang untuk "restart". Level kompetisi yang lebih rendah mungkin memberinya ruang untuk lebih banyak bermain dan mengembalikan kepercayaan diri.
Di sisi lain, sebagai pemain internasional apalagi bagian dari Timnas Indonesia ia mungkin ingin tetap berada di level kompetitif yang tinggi. Mencari klub dengan proyek yang lebih jelas juga terdengar realistis.
Sementara cerita Romeny masih menggantung, ada kabar positif dari Marselino Ferdinan. Setelah absen lama karena cedera hamstring, ia akhirnya kembali merumput bersama AS Trencin B di kasta ketiga Slovakia.
Marselino tampil sebagai starter saat melawan MSK Senec. Ia bermain selama 45 menit dalam hasil imbang 1-1. Ini langkah awal yang penting setelah pemulihan panjang pasca operasi pada Desember 2025 lalu.
Meski baru tiga kali tampil dengan total 64 menit sepanjang musim, peluangnya untuk kembali ke tim utama AS Trencin masih terbuka. Apalagi usianya masih muda dan potensinya besar asalkan bisa menjaga kebugaran.
Kisah Romeny dan Marselino seperti dua sisi mata uang. Satu sedang berjuang keras menemukan performa terbaik di tengah tekanan. Satu lagi perlahan bangkit dari cedera, mencoba membangun karier lagi.
Bagi Ole Romeny, musim ini mungkin terasa seperti langkah mundur. Tapi dalam sepak bola, kemunduran sering kali jadi titik awal kebangkitan. Entah ia bertahan di Oxford United di League One, atau mencoba peruntungan di Super League keputusan yang diambil nanti akan sangat menentukan arah kariernya ke depan.
Artikel Terkait
PSM Makassar Tampil dengan Lini Belakang Terlengkap saat Hadapi Bali United
Timnas Indonesia Uji Kekuatan Lawan Oman di FIFA Matchday Jelang Piala AFF 2026
Tiga Pemain Persib, Thom Haye, Marc Klok, dan Saddil Ramdani, Dipanggil Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026
Veda Ega Pratama Start ke-17 Usai Crash di Kualifikasi Moto3 Spanyol