Malut United Dibantai Bali United 1-4, Ambisi Besar Terganjal Performa Rapuh

- Senin, 20 April 2026 | 12:30 WIB
Malut United Dibantai Bali United 1-4, Ambisi Besar Terganjal Performa Rapuh

GIANYAR – Ambisi besar Malut United di musim Super League ini ternyata tak semulus yang dibayangkan. Mereka datang dengan gebrakan transfer, mendatangkan pemain-pemain juara dari Persib dan PSM. Tapi di lapangan? Hasilnya belum sepadan. Kini, mereka harus menelan pil pahit setelah dibantai Bali United dengan skor 1-4 di Stadion Kapten I Wayan Dipta. Bukan cuma angka, tapi performa mereka memperlihatkan kerapuhan yang mengkhawatirkan.

Padahal, awal laga memberi sinyal bagus. Malut tampil nekat, menekan sejak menit pertama. Bahkan di menit kedua, Taufik Rustam nyaris dapat penalti. Sayang, setelah dicek VAR, wasit membatalkannya. Mereka bermain efektif di babak pertama; dari dua tembakan, dua-duanya mengarah ke gawang. Kerja sama apik Taufik dan Ciro Alves akhirnya membuahkan gol di menit ke-32. Saat itu, harapan untuk membawa pulang poin dari Gianyar terasa nyata.

Namun, keunggulan itu cuma bertahan delapan menit. Bali United langsung menyamakan kedudukan lewat titik putih Teppei Yachida. Momentum pun berbalik.

Memasuki babak kedua, Malut masih berusaha menyerang. Mereka mencatat lima percobaan tembakan hingga jelang satu jam pertandingan. Tapi alih-alih mencetak gol, gawang mereka malah bobol lagi. Joao Ferrari memanfaatkan situasi bola mati yang kontroversial di menit ke-63 untuk membawa Bali United unggul. Keputusan wasit yang menilai Wbeymar Angulo melakukan pelanggaran itu memicu protes keras. Para pemain Malut terlihat frustrasi, dan ritme permainan mereka langsung buyar.

Pelatih Hendri Susilo mengakui hal itu. “Berbagai kondisi yang terjadi akibat keputusan wasit membuat kami kehilangan sentuhan,” ujarnya setelah laga.

Gol kedua itu seperti membuka keran. Bali United semakin beringas. Boris Kopitovic menambah gol di menit ke-67, disusul Thijmen Goppel sepuluh menit kemudian. Skor 4-1 benar-benar mengubur semangat Laskar Kie Raha.

Meski tertinggal jauh, Malut sempat berharap lagi di akhir laga. Bola diduga menyentuh tangan pemain Bali United di kotak penalti. Lagi-lagi, setelah tinjauan VAR, wasit tak memberi penalti. Keputusan ini seperti menambah garam di luka.

Hendri Susilo tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. “Pertandingan yang berkelas, tapi kami menjadi korban ketidakadilan malam ini,” cetus pelatih berusia 60 tahun itu.

Tapi jangan salah. Masalah Malut United sebenarnya lebih dalam dari sekadar keputusan wasit. Mereka tampak kesulitan menjaga konsistensi permainan selama 90 menit. Bisa bermain bagus di satu fase, lalu tiba-tiba ambruk ketika menghadapi tekanan. Investasi besar untuk mengumpulkan pemain-pemain berpengalaman ternyata belum menjamin tim yang solid. Chemistry antar pemain dan mentalitas juara masih jadi pekerjaan rumah yang besar.

Kekalahan telak ini harus jadi alarm. Perjalanan di Super League tak bisa cuma mengandalkan nama-nama besar di kertas. Butuh perbaikan menyeluruh, dari taktik sampai mental. Musim masih panjang, tapi waktu untuk berbenah tak banyak. Jika tidak segera berubah, mimpi besar Malut United bisa berakhir jadi kekecewaan yang panjang.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar