LONDON Tiga laga. Nihil poin. Situasi Tottenham Hotspur di bawah Igor Tudor mulai benar-benar mengkhawatirkan.
Memang, ada secercah harapan di sana-sini selama tiga pertandingan itu. Tapi bagi banyak pendukung, yang terlihat nyata cuma satu: hasil. Dan hasilnya buruk.
Kekalahan terakhir, melawan Crystal Palace, mungkin yang paling menyakitkan. Spurs seperti menghancurkan diri sendiri di babak pertama. Micky van de Ven dapat kartu merah, dan itu jadi titik balik yang mahal. Mereka kalah 1-3, dan sekarang harus ke Liverpool tanpa sang bek Belanda yang diskors itu.
Jadwal memang kejam. Sebelum ke Anfield, ada duel sengit melawan Atletico Madrid di Liga Champions. Tapi, justru laga terakhir sebelum jeda internasional yang mungkin paling genting: tandang ke markas Nottingham Forest. Itu sudah terasa seperti pertarungan hidup-mati untuk menjauh dari jurang degradasi.
Di sisi lain, tekanan untuk memecat Tudor kian mengeras. Keputusan ini bisa jadi penentu nasib mereka. Kontraknya kan cuma sampai akhir musim, jadi biaya pemutusan seharusnya tak terlalu besar. Pertanyaannya, apakah manajemen punya nyali?
Memang, Tudor bukan satu-satunya masalah. Tapi nyaris tak ada tanda dia bisa membalikkan keadaan. Performa tim, seperti yang terlihat di babak pertama lawan Palace, masih amburadul dan tak terkoordinasi.
Jadwal Spurs sebenarnya relatif lebih ringan ketimbang klub-klub di bawahnya, seperti Forest atau West Ham. Tapi apa artinya kalau permainan tetap berantakan?
Artikel Terkait
Manajemen Persija Tanggapi Julukan Anak Papa dan APBD FC Jelang Super League
Lamine Yamal Selamatkan Barcelona dari Kekalahan dengan Penalti Menit Akhir
Alessandro Matri Kritik Sassuolo: Fokus Jual Pemain, Abai Prestasi
PSM Makassar di Ambang Pecat Tomas Trucha, Pelatih Absen di Latihan