Ironisnya, di tengah keributan itu, pemilik utama Malut United FC, David Glen Oei, justru hadir. Alih-alih meredakan keadaan, yang keluar adalah pernyataan yang menyudutkan.
David mempertanyakan loyalitas para jurnalis lokal yang hadir. Kata-katanya menambah panas suasana.
"Kamu dari mana? Kalau dari Ternate kenapa tidak mendukung kami," tegas David Glen Oei, seperti dilaporkan.
Pernyataan itu terdengar oleh banyak orang. Seolah kerja jurnalistik yang independen harus dikorbankan demi dukungan buta.
Ini Sudah Melanggar UU
Firjal Usdek, Pimpinan Media Halmahera Post yang juga Sekretaris AMSI Maluku Utara, merasakan langsung tekanan malam itu. Ia menegaskan, semua jurnalis telah mematuhi protokol. Mereka berada di area tribun sesuai aturan, tidak keluar batas.
"Kami menggunakan ID Card yang lengkap dan resmi. Kami sangat kecewa atas tindakan yang kami terima malam ini," ujar Firjal.
Ia dengan tegas menyebut tindakan ofisial yang memaksa penghapusan karya jurnalistik adalah pelanggaran nyata. Melanggar Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999, yang seharusnya menjadi tameng dari intervensi semacam ini.
Pertandingan mungkin berakhir imbang. Tapi drama di luar lapangan ini jelas tidak ada imbang-imbangannya. Ini soal salah dan benar. Profesionalisme penyelenggara sepak bola dan kebebasan pers kembali diuji, dan malam itu di Ternate, keduanya terlihat tercabik-cabik.
Artikel Terkait
Lamine Yamal Selamatkan Barcelona dari Kekalahan dengan Penalti Menit Akhir
Alessandro Matri Kritik Sassuolo: Fokus Jual Pemain, Abai Prestasi
PSM Makassar di Ambang Pecat Tomas Trucha, Pelatih Absen di Latihan
PSM Makassar Dihukum Denda Rp150 Juta Akibat Aksi Suporter