Kendala ini bukan cuma dirasakan pemain, tapi juga pelatih. Kabarnya, pelatih Irak, Graham Arnold, pun kesulitan untuk berangkat ke Meksiko. Nah, kalau Irak benar-benar absen, FIFA pasti akan kelabakan cari pengganti.
Secara logika, posisi itu mestinya jatuh ke tim yang kalah di fase sebelumnya, seperti Uni Emirat Arab atau Oman. Tapi di sinilah masalahnya: negara-negara itu juga terkena dampak geografis yang sama. Wilayah udaranya juga terganggu.
Di sinilah letak peluang emas Indonesia. Pertama, dari sisi logistik, Indonesia stabil. Tidak terdampak langsung konflik Timur Tengah. Kedua, akses penerbangan dari sini ke Meksiko masih terbuka dan relatif aman. Ketiga, secara administratif, kita sudah berada di jalur kualifikasi yang sama. Jadi, buat FIFA, memilih Indonesia sebagai pengganti darurat adalah opsi yang paling masuk akal dan mudah secara operasional.
Lobi dan Diplomasi Jadi Kunci
Coach Justin menekankan, situasi darurat kayak gini butuh langkah proaktif. Dia mendorong PSSI untuk nggak cuma menunggu kabar dari Zurich, tapi aktif menjalin komunikasi. “Ini tugas penting bagi PSSI untuk segera melobi FIFA,” tegasnya.
“Konflik bisa berlarut-larut. Indonesia harus siap kalau skenario luar biasa ini benar-benar terjadi. Jangan sampai kita hanya jadi penonton.”
Kalau upaya diplomasi ini berhasil dan FIFA memberi lampu hijau, sejarah baru bisa tercipta. Indonesia berpeluang melaju ke putaran final Piala Dunia 2026 tanpa harus bertanding lebih dulu di fase play-off tersebut. Sebuah jalan pintas yang langka, yang bisa mengubah segalanya.
Artikel Terkait
Raymond/Joaquin Hadapi Juara Dunia di Semifinal All England 2026
Spalletti Pastikan Negosiasi Kontrak Baru dengan Juventus Segera Dimulai
PSSI Buka Peluang Comeback Elkan Baggott ke Timnas di Era Herdman
Ganda Muda Indonesia Sikat Unggulan Ketiga Dunia di Perempat Final All England