Dia mengakui, catatan sejarah itu memang penting. Tapi di sisi lain, performa yang ditunjukkan anak asuhnya sepanjang laga jauh dari memuaskan. “Ya, kami mencetak sejarah, itu benar. Hasilnya sangat bagus, tapi saya ulangi lagi, saya sangat tidak puas,” tegasnya. Kemenangan, baginya, tak boleh menutupi segudang kekurangan yang masih mencolok.
Pada usia 44 tahun, Souto dikenal sebagai figur yang sangat detail. Dia menuntut peningkatan signifikan, dan terang-terangan menyebut gaya bermain timnya harus berubah total jika ingin bersaing di level tertinggi Asia. “Apa yang kami lakukan sejauh ini belum cukup,” tambahnya. Kritik pedas itu seperti tamparan, sekaligus penyemangat, di ruang ganti.
Dan ujian berat itu sudah menunggu di depan mata.
Semifinal akan mempertemukan Indonesia dengan raksasa Asia, Jepang. Laga yang dijadwalkan di Indonesia Arena, Kamis besok, bakal menjadi tolok ukur nyata. Bisikan Souto tentang perlunya “perubahan gaya bermain” akan diuji seketika di lapangan hijau.
Sikap kritis pelatih itu jelas menyiratkan satu hal: target mereka bukan sekadar jadi peserta semifinal. Ada ambisi lebih besar yang ingin diraih, dan jalan menuju sana masih sangat terjal. Semua mata kini tertuju, apakah Skuad Garuda bisa menjawab tuntutan tinggi sang nahkoda di laga yang paling menentukan ini.
Artikel Terkait
Blunder Kepa Picu Kekalahan Arsenal dari Manchester City di Final Carabao Cup
Barcelona dan Madrid Menang, Papan Klasemen La Liga Tetap Sengit
Veda Ega Pratama Tolak Tradisi Sampanye, Podium Moto3 Brasil Jadi Momen Bersejarah Indonesia
Juventus Serius Dekati Rudiger, Kontrak di Madrid Hampir Habis