Rabu dini hari itu berakhir dengan getir bagi Chelsea. Di tengah lapangan Emirates yang sudah mulai sepi, Wesley Fofana berjongkok. Kamera menangkapnya sedang menyeka air mata sebuah potret pilu yang begitu menyayat, mengabadikan kekecewaan timnya yang gagal lagi. Mimpi untuk mencapai final Carabao Cup pupus sudah, dikubur oleh kekalahan telak dari Arsenal.
Fofana sendiri tampil penuh selama 90 menit. Tapi upayanya, dan upaya seluruh rekan-rekannya, terasa sia-sia. Chelsea datang dengan beban kekalahan 2-3 dari leg pertama, dan di laga penentuan ini mereka sama sekali tak punya gigi. Hanya dua tembakan tepat sasaran sepanjang pertandingan. Nol gol.
Pukulan terakhir, yang paling menyakitkan, datang di masa injury time. Menit ke-97. Kai Havertz, mantan anak mereka sendiri, dengan dingin melewati Robert Sanchez dan menceploskan bola ke gawang kosong. Gol itu seperti penutup paku peti mati. Tak ada lagi waktu untuk berharap.
Bagi Fofana, momen ini terasa pahit. Padahal, dia bukan pemain yang asing dengan trofi. Dia pernah juara FA Cup bersama Leicester dan menjuarai UEFA Conference League musim lalu. Tapi kegagalan kali ini, di semifinal piala domestik, rasanya berbeda. Mungkin karena harapan yang begitu besar, atau karena cara kalah yang begitu tumpul.
Namun begitu, bagi Paul Merson, air mata sang bek justru menunjukkan masalah yang lebih dalam. Legenda Arsenal itu tak sungkan memberikan kritik pedas.
Artikel Terkait
Embargo FIFA Terangkat, PSM Makassar Siapkan Dua Senjata Baru
Persib Berburu Bomber Spanyol, Dua Pemain Asing Diambang Kepergian
Ajax Rekrut Maarten Paes, Kiper Berpengalaman yang Kembali ke Eredivisie
Embargo FIFA Terangkat, PSM Makassar Lepaskan Dua Senjata Baru