Dengan regulasi yang ada, konsekuensinya jelas: kalau bomber baru datang, satu pemain asing yang ada harus rela pergi. Ini koreksi struktural, bukan sekadar ganti-ganti pemain biasa. PSM tak mau mengulang kesalahan paruh pertama musim, mempertahankan pemain yang kontribusinya minim.
Di tengah hiruk-pikuk sanksi FIFA, justru kehadiran Dusan Lagator yang mencuri perhatian. Bek tengah asal Montenegro dengan nilai pasar hampir Rp8 miliar tertinggi di skuad saat ini ini bukan sekadar tambahan biasa.
Kehadirannya adalah sebuah pernyataan. Lima kekalahan beruntun dan blunder pertahanan yang berulang memaksa manajemen bertindak tegas. Lagator diharapkan jadi solusi instan, penopang yang langsung berdampak. Pesannya ke seluruh pemain jelas: status dan jasa masa lalu tak lagi jadi jaminan untuk tempat di tim utama.
Memang, sanksi FIFA membelenggu gerak di meja administrasi. Tapi realitas di lapangan jauh lebih kejam dan tak peduli dengan aturan itu. Lawan-lawan terus berbenah, baik yang di papan bawah maupun tengah. Semuanya berani mengambil risiko.
PSM terjebak di tengah arus itu. Kalau tidak bergerak sekarang, yang dipertaruhkan bukan cuma poin atau posisi di klasemen. Tapi lebih dari itu, legitimasi dari proyek tim ini sendiri.
Dengan tetap memburu striker dan mendatangkan Lagator, PSM Makassar sebenarnya memilih untuk mengambil risiko. Mereka menghadapi masalah hari ini, demi kesempatan bertahan di hari esok.
Ini bukan tindakan nekat. Lebih tepat disebut sebagai keputusan terpaksa dalam sebuah kompetisi yang sama sekali tak mengenal belas kasihan. Satu hal yang kini semakin jelas: PSM Makassar tidak sedang membangun zona nyaman.
Mereka sedang berperang. Melawan krisis, tekanan, dan waktu yang terus berdetak.
Artikel Terkait
Bernardo Tavares Hadapi Hantu Masa Lalu di GBT
Kekalahan Malut United di Ternate Guncang Papan Atas Super League
PSM Makassar Terjepit: Trucha Berjibaku Lawan Semen Padang yang Berubah Total
Imbang Lawan Irak, Timnas Futsal Indonesia Pastikan Tiket Juara Grup