Lalu ada sinyal-sinyal perpisahan yang sulit diabaikan. Beberapa rekan setimnya di Persija mulai mengunggah pesan yang berbau ‘selamat jalan’. Bek asing Persija, Emaxwell Souza, menulis caption yang cukup emosional di Instagram.
Bahkan sang kapten, Rizky Ridho, mengunggah momen kebersamaan dengan Hansamu di Instagram Story-nya. Gestur seperti ini di dunia sepak bola kerap menjadi penanda; sebuah babak telah berakhir.
Nah, kalau benar terjadi, langkah Hansamu ke Persebaya ini seperti pulang kampung. Dia kembali ke lingkungan yang sudah mengenalinya. Atmosfer, tekanan suporter, dan karakter permainan di sana bukan hal asing baginya. Bagi Persebaya, ini adalah solusi instan untuk menambah kedalaman dan ketenangan di lini belakang yang sedang dibenahi.
Dan bagi Hansamu sendiri, Surabaya menawarkan satu hal yang paling berharga saat ini: kesempatan untuk bermain lagi. Menit bermain adalah segalanya bagi seorang pemain yang masih ingin membuktikan diri.
Lalu bagaimana dengan PSM? Tampaknya mereka kehilangan sebuah kesempatan emas. Di saat yang tepat, ketika mereka sangat membutuhkan sosok pemimpin bertahan yang berpengalaman, calon yang ideal justru berjalan ke arah lain. Ini bukan sekadar kehilangan satu opsi pemain, tapi kehilangan profil yang sangat spesifik di momen yang krusial.
Bagi Hansamu Yama, pilihan ini jelas bukan cuma soal romantisme kembali ke klub lama. Ini lebih tentang logika karier. Tentang mempertahankan relevansi.
Sepak bola memang selalu berputar pada momentum. Dan saat ini, momentum Hansamu sepertinya mengarah ke satu tempat: Surabaya. Sementara di Makassar, pencarian masih berlanjut.
Artikel Terkait
PSM Makassar Terjepit: Trucha Berjibaku Lawan Semen Padang yang Berubah Total
Imbang Lawan Irak, Timnas Futsal Indonesia Pastikan Tiket Juara Grup
PSM Makassar Beraksi di Tengah Badai Sanksi FIFA
PSM Makassar Waspada, Semen Padang Datang dengan Skuad Baru dan Misi Darurat