SURABAYA Bernardo Tavares punya naluri. Sebagai pelatih, dia tak cuma paham taktik. Dia juga peka momen. Bisa merasakan kapan sebuah gol berubah jadi simbol, jadi cerita yang lebih besar dari sekadar angka di papan skor.
Lihat saja dua momen yang lahir di bawah asuhannya. Saat di PSM dulu, dan kini di Persebaya. Dua aksi individu itu seperti potongan sejarah kecil yang langsung melekat di ingatan. Solo run Ramadhan Sananta yang bikin orang berdecak, mirip gaya Gareth Bale. Lalu, ada Rachmat Irianto yang gerakannya bikin Tavares sendiri spontan menyebut nama Maradona.
Dua pemain, dua klub, waktu yang berbeda. Tapi ada benang merah yang sama: kepercayaan dari pelatih, dan keberanian pemain untuk berekspresi. Itu kuncinya.
Ketika Rian Menjadi "Maradona" di Bantul
Ceritanya terjadi di Stadion Sultan Agung, Bantul, Minggu lalu. Persebaya menang telak 3-0 atas PSIM Yogyakarta di lanjutan Super League. Tapi, skor akhir bukanlah hal yang paling dibicarakan setelah pertandingan usai.
Semua orang malah membicarakan gol ketiga.
Yang mencetak, Rachmat Irianto. Seorang gelandang bertahan. Bukan penyerang, bukan winger. Tapi lihat aksinya: dia membawa bola dari tengah lapangan sendiri. Melewati hadangan, masuk ke kotak penalti, lalu menendang dengan akurat. Gol.
Ini bukan soal posisi atau skema taktik yang diajarkan. Ini murni insting. Keberanian.
Di pinggir lapangan, Bernardo Tavares hanya bisa terpaku.
Ucapannya spontan. Jujur. Dan langsung menjadi kutipan yang melekat. Bukan berarti Tavares menyamakan skill Rian dengan legenda Argentina itu. Tapi esensinya, tentang dribel panjang penuh kepercayaan diri itu, yang membuatnya teringat Maradona. Apalagi yang melakukannya seorang gelandang bertahan.
Statistiknya singkat tapi efektif: main 28 menit, satu tembakan, satu gol. Akurasi umpan sempurna, ditambah tiga intersepsi. Efisien. Senyap. Tapi mematikan.
Gol itu mengubah sesuatu. Rian tak lagi sekadar pemain pekerja. Dia jadi simbol keberanian yang tiba-tiba muncul dari tempat yang tak terduga.
Kilas Balik ke Makassar: Sananta dan Gaya Ala Bale
Nuansa serupa sebenarnya sudah pernah tercipta sebelumnya, saat Tavares masih membesut PSM Makassar. Waktu itu, Ramadhan Sananta yang jadi bintangnya.
Pemain muda itu, yang masih dianggap mentah, punya nyali besar. Dalam satu laga, Sananta melakukan serangan solo dari sisi lapangan. Dia memacu kecepatan, memanfaatkan ruang, dan menyelesaikannya dengan dingin.
Gaya larinya eksplosif. Dribelnya vertikal langsung menuju jantung pertahanan lawan. Banyak yang langsung teringat pada Gareth Bale di masa jayanya bukan cuma cepat, tapi penuh tenaga dan determinasi.
Pada momen itu, Sananta tak cuma menambah angka. Dia menciptakan sebuah gambaran ikonik: pemain muda Indonesia yang berani ambil risiko, bawa bola jauh, dan tak ragu untuk menjadi penentu.
Artikel Terkait
Herdman Berburu Amunisi Baru Timnas Indonesia ke Eropa
Persib Pilih Kurzawa, Bukan Ramos: Keputusan Tepat Guna di Atas Sensasi
Komentar Instagram Ricky Kambuaya yang Bikin Jakmania Heboh
Ragnar Oratmangoen, Target Terbaru Gelombang Pemain Diaspora ke Super League