Rapat internal Komisi XI DPR akhirnya mencapai titik terang. Mereka secara resmi menyepakati Thomas Djiwandono, atau yang akrab disapa Tommy, untuk menduduki posisi Deputi Gubernur Bank Indonesia. Posisi itu sebelumnya dipegang Juda Agung yang memilih mundur.
Keputusan ini, kata Ketua Komisi XI Mukhamad Misbakhun, lahir dari musyawarah mufakat. Semua fraksi di komisi setuju. "Hari ini kita sepakati bersama. Ini jadi keputusan resmi Komisi XI," ujarnya.
Menurut Misbakhun, Tommy dinilai sebagai figur yang bisa diterima semua partai. Selain itu, pemahamannya dinilai kuat soal pentingnya menyelaraskan kebijakan moneter dan fiskal. "Pertimbangannya, bapak Thomas adalah figur yang dapat diterima seluruh partai politik. Dia juga menjelaskan dengan sangat bagus soal perlunya membangun sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal untuk penguatan pertumbuhan ekonomi," ungkapnya.
Kesepakatan ini rencananya akan dibawa ke rapat paripurna DPR besok untuk disahkan.
Sebelumnya, Tommy sudah menjalani uji kelayakan. Dalam paparannya, Wakil Menteri Keuangan itu menyoroti kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang menurutnya relatif solid. Inflasi terkendali, pertumbuhan terjaga, dan sektor keuangan cukup tangguh. Tren penurunan inflasi, katanya, membuka ruang lebih lebar.
"Inflasi mengalami tren penurunan adalah sesuatu yang menurut saya memberikan ruang untuk ekonomi Indonesia ke depannya," kata Thomas.
Ia memaparkan data. Di kuartal ketiga, ekonomi tumbuh 5,04 persen. Inflasi pun rendah, hanya 2,9 persen. "Sebenarnya kalau dikeluarkan emas, itu di angka sekitar 1,5 persen," tambahnya.
Di sisi lain, stabilitas juga terlihat dari sektor riil dan eksternal. Manufaktur masih ekspansif, sektor keuangan tahan guncangan. Yang patut dicatat, neraca perdagangan kita surplus terus menerus dalam waktu lama.
"Surplus neraca perdagangan kita tetap baik. Sudah selama 67 bulan terakhir tetap konsisten surplus," tegasnya.
Thomas juga memperkenalkan sebuah strategi bertajuk "Gerak". Ini adalah kerangka kebijakan adaptif dengan lima pilar, mulai dari penguatan tata kelola hingga akselerasi sinergi. "Ada 5 strategi tematik. Yang pertama adalah "governance"," ucapnya.
Ia menegaskan, semua strategi ini tetap menghormati independensi BI. Sinergi dengan pemerintah dan otoritas lain, kata dia, justru perlu diperkuat tanpa mengurangi kewenangan bank sentral.
"Artinya sinergi dengan stakeholder lain, sinergi dengan fiskal, sinergi dengan OJK dan lembaga keuangan lainnya itu tidak mengurangi independensi bank Indonesia," tegas Thomas.
Menurutnya, kolaborasi fiskal dan moneter, terutama di level likuiditas dan suku bunga, sangat krusial untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan, menuju Indonesia Emas 2045.
Siapa Thomas Djiwandono?
Lahir di Jakarta, 7 Mei 1972, Tommy adalah putra sulung Soedradjad Djiwandono, mantan Gubernur BI. Dari garis ibu, Biantiningsih Miderawati, ia adalah keponakan dari Presiden Prabowo Subianto. Ibunya adalah kakak kandung Prabowo.
Riwayat pendidikannya global. Sarjana sejarah diraih dari Haverford College, AS, lalu gelar magister di bidang hubungan internasional dan ekonomi dari Johns Hopkins University.
Kariernya berawal dari dunia jurnalistik. Dia pernah magang di Majalah Tempo pada 1993, lalu menjadi wartawan Indonesia Business Weekly. Belakangan, ia beralih ke finansial sebagai analis di Hong Kong.
Tommy juga pernah masuk dunia korporasi sebagai Deputy CEO Arsari Group. Di politik, ia pernah nyaleg di Kalimantan Barat dan aktif mendampingi Prabowo Subianto, termasuk dalam Pilpres 2014. Ia pernah menjabat Bendahara Umum Partai Gerindra.
Pada Juli 2024, ia diangkat sebagai Wakil Menteri Keuangan di Kabinet Indonesia Maju, dan tetap menjabat di posisi yang sama dalam Kabinet Merah Putih sejak Oktober 2025. Tommy telah berkeluarga dan dikaruniai tiga anak.
Artikel Terkait
Wall Street Tertekan: Nasdaq Anjlok 0,79% Dipicu Kekhawatiran Masa Depan AI dan OpenAI Gagal Capai Target
BEI Hapus 11 Waran Terstruktur KGI Sekuritas dari Perdagangan per 11 Mei 2026
Sucor Asset Management Gandeng Hana Bank sebagai Agen Penjual Empat Produk Reksa Dana
Ashmore Perpanjang Buyback Saham Rp7 Miliar hingga Juli 2026