Di gedung KPK Kuningan, Senin sore itu, Ishfah Abidal Aziz lebih dikenal sebagai Gus Alex akhirnya keluar dari ruang pemeriksaan. Jarum jam menunjukkan pukul 17.28. Mantan stafsus Menag Yaqut Cholil Qoumas ini baru saja menjalani pemeriksaan terkait kasus korupsi kuota haji 2023-2024 yang sedang panas.
Wajahnya tampak lelah. Saat segerombolan wartawan mengepung dan melontarkan berbagai pertanyaan, responsnya singkat saja. Ia terus meminta semua pertanyaan dialihkan ke penyidik. "Ke penyidik aja," ujarnya, menutup percakapan.
Pertanyaan soal aliran dana atau bagaimana sebenarnya alur perintah pembagian kuota itu bekerja pun ditanggapi dengan cara serupa. Hanya tiga kata yang ia ulang: 'ke penyidik aja'.
Namun begitu, ketika ditanya soal statusnya yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka, Gus Alex terlihat mencoba menerima. "Saya jalanin semuanya," katanya, sebelum kemudian meninggalkan lokasi.
Kasus yang menjeratnya ini berawal dari kebijakan tambahan kuota haji. Ceritanya, pada 2024, Indonesia dapat jatah tambahan 20 ribu kuota. Tujuannya mulia: memangkas antrean panjang jemaah reguler yang bisa menunggu hingga dua dekade.
Nah, masalahnya muncul saat kuota tambahan itu dibagi begitu saja: sepuluh ribu untuk haji reguler, sepuluh ribu lagi untuk haji khusus. Padahal, aturan mainnya jelas. UU Haji menyebut porsi haji khusus cuma 8 persen dari total kuota. Akhirnya, setelah penyesuaian, angka finalnya jadi 213.320 untuk reguler dan 27.680 untuk khusus di tahun 2024.
Menurut KPK, kebijakan yang diterbitkan di era Yaqut inilah yang kemudian menimbulkan masalah. Akibat pembagian yang dianggap tidak sesuai aturan, sekitar 8.400 calon jemaah reguler yang sudah mengantre lebih dari 14 tahun dan berharap bisa berangkat tahun lalu justru gagal diberangkatkan.
Dari situlah penyidikan bergulir. KPK kemudian menetapkan Yaqut dan Gus Alex sebagai tersangka. Lembaga antirasuah ini menyatakan sudah mengumpulkan bukti-bukti yang cukup sebelum mengambil langkah penetapan tersebut.
Kini, proses hukumnya masih berjalan. Sementara publik menunggu perkembangan selanjutnya, ruang pemeriksaan di Kuningan masih mungkin ramai lagi di hari-hari mendatang.
Artikel Terkait
Mayapada Hospital Hadirkan Teknologi Kedokteran Nuklir PET-CT dan SPECT-CT untuk Deteksi Dini Kanker
Truk Mogok di Perlintasan, Kereta Api Dhoho Tabrak Dump Truk di Blitar
Warga Jerman Buron Imigrasi Selama Tiga Tahun karena Overstay Ditangkap di Bantul
Panglima TNI Tegaskan Komitmen Perkuat Pertahanan Siber Lewat Kolaborasi dengan BSSN