Bernardo Tavares dan Seni Merawat Keberanian: Dari Solo Run Sananta hingga Dribel Maradona Rachmat Irianto

- Senin, 26 Januari 2026 | 17:00 WIB
Bernardo Tavares dan Seni Merawat Keberanian: Dari Solo Run Sananta hingga Dribel Maradona Rachmat Irianto

SURABAYA Bernardo Tavares punya naluri. Sebagai pelatih, dia tak cuma paham taktik. Dia juga peka momen. Bisa merasakan kapan sebuah gol berubah jadi simbol, jadi cerita yang lebih besar dari sekadar angka di papan skor.

Lihat saja dua momen yang lahir di bawah asuhannya. Saat di PSM dulu, dan kini di Persebaya. Dua aksi individu itu seperti potongan sejarah kecil yang langsung melekat di ingatan. Solo run Ramadhan Sananta yang bikin orang berdecak, mirip gaya Gareth Bale. Lalu, ada Rachmat Irianto yang gerakannya bikin Tavares sendiri spontan menyebut nama Maradona.

Dua pemain, dua klub, waktu yang berbeda. Tapi ada benang merah yang sama: kepercayaan dari pelatih, dan keberanian pemain untuk berekspresi. Itu kuncinya.

Ketika Rian Menjadi "Maradona" di Bantul

Ceritanya terjadi di Stadion Sultan Agung, Bantul, Minggu lalu. Persebaya menang telak 3-0 atas PSIM Yogyakarta di lanjutan Super League. Tapi, skor akhir bukanlah hal yang paling dibicarakan setelah pertandingan usai.

Semua orang malah membicarakan gol ketiga.

Yang mencetak, Rachmat Irianto. Seorang gelandang bertahan. Bukan penyerang, bukan winger. Tapi lihat aksinya: dia membawa bola dari tengah lapangan sendiri. Melewati hadangan, masuk ke kotak penalti, lalu menendang dengan akurat. Gol.

Ini bukan soal posisi atau skema taktik yang diajarkan. Ini murni insting. Keberanian.

Di pinggir lapangan, Bernardo Tavares hanya bisa terpaku.

“Kalau saya melihat gol ini hari ini dan saya belum pernah melihat Rian sebelumnya, saya akan mengira namanya Diego Armando Maradona.”

Ucapannya spontan. Jujur. Dan langsung menjadi kutipan yang melekat. Bukan berarti Tavares menyamakan skill Rian dengan legenda Argentina itu. Tapi esensinya, tentang dribel panjang penuh kepercayaan diri itu, yang membuatnya teringat Maradona. Apalagi yang melakukannya seorang gelandang bertahan.

Statistiknya singkat tapi efektif: main 28 menit, satu tembakan, satu gol. Akurasi umpan sempurna, ditambah tiga intersepsi. Efisien. Senyap. Tapi mematikan.

Gol itu mengubah sesuatu. Rian tak lagi sekadar pemain pekerja. Dia jadi simbol keberanian yang tiba-tiba muncul dari tempat yang tak terduga.

Kilas Balik ke Makassar: Sananta dan Gaya Ala Bale

Nuansa serupa sebenarnya sudah pernah tercipta sebelumnya, saat Tavares masih membesut PSM Makassar. Waktu itu, Ramadhan Sananta yang jadi bintangnya.

Pemain muda itu, yang masih dianggap mentah, punya nyali besar. Dalam satu laga, Sananta melakukan serangan solo dari sisi lapangan. Dia memacu kecepatan, memanfaatkan ruang, dan menyelesaikannya dengan dingin.

Gaya larinya eksplosif. Dribelnya vertikal langsung menuju jantung pertahanan lawan. Banyak yang langsung teringat pada Gareth Bale di masa jayanya bukan cuma cepat, tapi penuh tenaga dan determinasi.

Pada momen itu, Sananta tak cuma menambah angka. Dia menciptakan sebuah gambaran ikonik: pemain muda Indonesia yang berani ambil risiko, bawa bola jauh, dan tak ragu untuk menjadi penentu.

Rahasia di Balik Kebebasan Itu

Ini yang menarik. Baik Sananta dulu maupun Rian sekarang, mereka tumbuh dalam sistem yang sama: sistem Bernardo Tavares. Sebuah sistem yang terkenal disiplin, terstruktur rapi, dan mengutamakan organisasi tim yang solid.

Namun begitu, di dalam kerangka yang ketat itu, Tavares menyisipkan kebebasan. Ruang untuk kreasi individu. Dia tidak membunuh insting pemainnya. Fondasi taktik dibangun kuat, lalu pemain diberi lampu hijau untuk mengambil risiko pada momen yang tepat.

Jadinya seperti ini: Sananta berani melakukan solo run di PSM. Rian berani membawa bola dari tengah untuk Persebaya.

Kedua aksi spektakuler itu lahir bukan dari kekacauan. Justru, mereka muncul dari rasa aman dalam sebuah sistem yang terpercaya. Pemain tahu kapan waktunya berkreasi.

Dari Bale ke Maradona: Dua Wajah, Satu Jiwa

Sananta dan Rian punya gaya yang kontras. Yang satu vertikal dan eksplosif, langsung menyerang ruang. Yang lain lebih progresif, elegan, mengontrol bola di ruang sempit.

Seperti perbandingan yang muncul: Bale dengan kekuatan dan kecepatannya, Maradona dengan kontrol bola dan keberaniannya.

Gaya berbeda, karakter beda. Tapi esensinya satu: keberanian untuk mengambil alih momen dan mengubah jalan pertandingan. Dan di bawah Tavares, keberanian semacam itu justru dirawat, bukan ditekan.

Inilah yang membuat kedua gol itu berarti lebih dari sekadar angka.

Mereka bukan cuma jadi highlight atau konten viral di media sosial. Mereka adalah pernyataan identitas. Bukti bahwa pemain Indonesia bisa percaya diri, berani mengeksekusi aksi individu brilian, tanpa harus mengorbankan disiplin tim.

Sananta dan Rian adalah simbol. Di dalam sistem yang tepat, pemain lokal bisa berkembang jadi karakter yang diingat, bukan sekadar bagian yang bisa diganti.

Dari Makassar ke Surabaya, dari gaya Bale ke gaya Maradona, pelajaran dari era Tavares cukup jelas. Struktur yang solid membangun sebuah tim yang tangguh. Tapi, hanya keberanianlah yang bisa melahirkan momen-momen legendaris sekecil apa pun itu.

Dan dari ribuan gol yang tercipta setiap musim, hanya segelintir yang benar-benar melekat dalam ingatan.

Gol Sananta dikenang. Gol Rian juga akan dikenang.

Bukan karena angkanya. Tapi karena cerita di baliknya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler