JAKARTA – Ambisi Indonesia di panggung sepakbola dunia memang tak main-main. Setidaknya, itulah yang ditangkap oleh Aleksandar Dimitrov, pelatih Bulgaria. Menurutnya, keputusan PSSI mengganti Patrick Kluivert dengan John Herdman sebagai juru taktik timnas adalah sinyal yang jelas. Negeri ini serius ingin berubah.
Dimitrov sendiri bukan orang asing di sini. Dua dekade silam, pria 49 tahun ini sudah merasakan panasnya atmosfer sepakbola Indonesia. Dia pernah membela Persipura Jayapura, juga sempat menjadi asisten pelatih. Pengalaman itu membuatnya masih mengikuti perkembangan di sini, termasuk soal pergantian pelatih tadi.
“Indonesia adalah negara yang banyak berinvestasi di sepakbola,” ujar Dimitrov.
“Ini dibuktikan dengan fakta tahun lalu Patrick Kluivert menjadi pelatih tim ini, dan asistennya serta kepala taktik sepakbola Indonesia adalah spesialis dari Belanda.”
Baginya, Indonesia adalah tim paling berambisi untuk lolos ke Piala Dunia. Impian untuk tampil di Piala Dunia 2026 memang sudah pupus lebih dulu, kandas oleh Arab Saudi dan Irak di putaran kualifikasi. Tapi mimpi itu tidak mati. PSSI langsung bergerak, memecat Kluivert dan menunjuk Herdman dengan target baru: Piala Dunia 2030.
Dimitrov yakin, Indonesia punya sumber daya untuk mewujudkannya. Terutama dari sisi finansial. Investasi besar-besaran itu, katanya, bisa mengobati kekecewaan yang ada.
“Jadi ini adalah negara di mana sepakbola adalah sebuah agama, berkembang sangat, sangat cepat dengan sumber daya keuangan yang sangat, sangat, saya harus katakan, besar,” katanya lagi.
Di sisi lain, ambisi lain juga mengemuka: menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 2034 atau 2038. Rupanya, keinginan untuk hadir di pesta sepakbola terbesar itu diwujudkan dari dua sisi; sebagai peserta dan sebagai penyelenggara.
Kedatangan Bulgaria ke Indonesia dalam FIFA Series Maret 2026 nanti bukan cuma sekadar pertandingan. Bagi Dimitrov, ini kesempatan berharga untuk bertemu tim dari benua lain, belajar mentalitas berbeda, dan menjalin komunikasi. Hal-hal semacam itulah yang berharga dalam persiapan timnya.
Dia pun kembali bernostalgia. Masa-masa tiga tahunnya di Indonesia, dari 2003 sampai 2005, jelas meninggalkan kesan mendalam. Baik sebagai pemain Persipura dan Petrokimia, maupun sebagai asisten Ivan Kolev.
“Saya telah menghabiskan tiga tahun yang luar biasa,” kenangnya.
Dan satu hal yang tak pernah dia lupa: betapa fanatiknya suporter di sini. Sepakbola benar-benar seperti agama. Buktinya? Saat masih aktif bermain, latihan timnya saja bisa disaksikan langsung oleh lima ribu orang. Bayangkan. Itu baru latihan, bukan pertandingan resmi. Fenomena seperti inilah yang mungkin jadi bahan bakar utama ambisi besar Indonesia ke depannya.
Artikel Terkait
Bali United Hajar PSM Makassar 2-0, Irfan Jaya Jadi Mimpi Buruk Kampung Halaman
Veda Ega Pratama Bangkit dari Posisi 17 ke 6 di Jerez, Tim Honda Asia Siapkan Strategi untuk Le Mans
Empat Tim Terancam Degradasi, PSBS Biak dan Semen Padang Paling Terpuruk di Super League 2025/2026
Persaingan Tiga Tim Makin Ketat, Persib dan Borneo FC Sama Kuat di Puncak Klasemen Super League