"Ini bukan prestasi atau hal yang wah, tetapi memang kewajiban," kata Sulyadi.
"Karena kalau tim disanksi, maka manajemen wajib untuk mengupayakan pencabutan sanksi itu."
Harapannya sederhana: banned jangan sampai menyapa PSM lagi. Kejadian berulang bisa merusak citra klub besar yang punya sejarah panjang dan segudang prestasi, baik di dalam maupun luar negeri.
"PSM ini klub besar, klub bersejarah," harapnya. "Jadi sebaiknya hal-hal begini tidak terjadi, supaya citra klub tidak rusak."
Bicara soal sanksi, FIFA sebenarnya sudah menjatuhkan banned kepada PSM sejak 9 Januari 2026 lalu. Manajemen klub sendiri belum memberikan penjelasan resmi soal penyebabnya.
Tapi, dugaan kuatnya masih sama: terkait tunggakan gaji. Baik untuk pemain maupun mantan pelatih Bernardo Tavares, yang hengkang karena urusan gaji dan bonus yang tak kunjung tuntas.
Yang jadi catatan, ini adalah banned kedua untuk PSM dalam lima bulan terakhir. Mereka juga tercatat sebagai klub Indonesia pertama yang kena sanksi FIFA di tahun 2026.
Sebelumnya, tepatnya 8 Oktober 2025, PSM sudah kena larangan mendaftarkan pemain. Imbasnya, beberapa pemain anyar mereka baru bisa turun setelah kompetisi berjalan lima laga.
Lalu, di Januari 2026, Pasukan Ramang kembali dapat sanksi serupa. Situasi itu sempat bikin suporter cemas, karena jeda musim adalah momen krusial untuk merekrut pemain baru.
Artikel Terkait
Debut Impresif Veda Ega, Bezzecchi Menangi Seri Pembuka MotoGP 2026 di Buriram
All England 2026: Tunggal Putra dan Putri Indonesia Terhenti di Perempatfinal
Raymond/Joaquin Hadapi Juara Dunia di Semifinal All England 2026
PSSI Didorong Manfaatkan Peluang Darurat FIFA untuk Gantikan Irak di Kualifikasi Piala Dunia 2026