Thomas Frank Bertekad Bertahan di Tottenham di Tengah Badai Kritik

- Selasa, 20 Januari 2026 | 11:30 WIB
Thomas Frank Bertekad Bertahan di Tottenham di Tengah Badai Kritik

LONDON Badai Kritik dan Janji Bertahan

Suasana di kompleks latihan Tottenham terasa berat Senin sore. Namun, Thomas Frank berdiri di hadapan media dengan sikap yang justru menantang. Manajer Spurs itu bertekad untuk bertahan, bersikeras bahwa dirinya masih mendapat dukungan penuh dari pimpinan klub. "Saya akan berjuang mempertahankan posisi ini," ujarnya dengan nada tegas. Perjuangannya itu akan dimulai dari markas mereka sendiri di London utara.

Tekad itu muncul setelah tekanan memuncak. Sabtu lalu, Tottenham tumbang 2-1 di kandang sendiri dari West Ham United rival sekota yang sedang berjuang hindari jurang degradasi. Kekalahan itu bukan sekadar tiga poin yang melayang. Ia seperti pukulan telak yang memperburuk situasi yang sudah pelik.

Bagaimana tidak? Dari 11 laga kandang musim ini, Spurs cuma mengumpulkan sembilan poin. Hasil itu menempatkan mereka di peringkat 14 klasemen sementara. Lebih menyakitkan lagi, hanya dua tim juru kunci klasemen West Ham dan Wolverhampton yang punya catatan kandang lebih buruk. Performa itu jelas jauh dari harapan.

Kekalahan dari West Ham ibarat percikan api. Kabarnya, manajemen sempat mempertimbangkan untuk memecat Frank segera. Teriakan ketidakpuasan dari tribun pendukung sepertinya menggema hingga ke ruang direksi. Namun, keputusan akhirnya berbeda. Frank diberi kesempatan lagi, setidaknya untuk laga penting Liga Champions melawan Borussia Dortmund, Selasa malam ini.

Di sisi lain, ironisnya, justru di kompetisi Eropa-lah Tottenham tampak lebih meyakinkan. Mereka masih punya peluang besar melaju ke babak 16 besar, hanya terpaut satu poin dari zona aman. Kontras yang tajam antara performa domestik dan kontinental ini menambah warna drama musim mereka.

Sebelum jumpa pers, Frank lebih dulu menggelar pertemuan tertutup. Ia duduk bersama sejumlah nama penting klub: CEO Vinai Venkatesham, Direktur Olahraga Johan Lange, dan figur berpengaruh Nick Beucher. Kehadiran Beucher cukup menarik. Sejak kepergian mendadak Daniel Levy awal musim, menantu pemilik klub Vivienne Lewis ini perannya kian menonjol.

Frank mengaku pertemuan itu memberinya angin segar. Ia menepis segala rumor tentang posisinya sebagai bagian dari "sirkus media" belaka. "Saya merasakan kepercayaan dari mereka," katanya.

“Percakapan kami berjalan baik. Kami bicara tentang kehidupan, sepak bola, dan masa depan klub. Saya pikir ini pertanda positif. Biasanya, kalau situasi sedang buruk, orang cenderung menghindar. Mereka tidak akan datang dengan ramah untuk sekadar makan siang.”

Namun begitu, Frank sadar betul bahwa semua dukungan dan percakapan baik itu punya syarat mutlak: kemenangan. Tanpa itu, segalanya bisa berubah dengan cepat.

“Intinya sederhana. Selama kita menang, dan menang dalam jumlah yang cukup, semua orang akan tetap di belakang kita. Ini bukan tentang saya pribadi. Ini tentang bagaimana kita mendukung tim dan para pemain.”

Pertandingan melawan Dortmund nanti akan menjadi ujian nyata. Bukan cuma untuk harapan di Liga Champions, tapi mungkin juga untuk masa depan Thomas Frank sendiri di London Utara. Ia berjanji bertahan. Sekarang, tinggal buktinya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar