Taufik Hidayat Soroti Krisis Dokter Olahraga: Hanya 122 untuk Seluruh Indonesia

- Senin, 08 Desember 2025 | 10:36 WIB
Taufik Hidayat Soroti Krisis Dokter Olahraga: Hanya 122 untuk Seluruh Indonesia

Di tengah hiruk-pikuk Indonesia Sports Summit 2025, sebuah pernyataan menohok dilontarkan oleh Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga, Taufik Hidayat. Intinya sederhana tapi serius: Indonesia kelangkaan dokter spesialis olahraga. Parahnya lagi.

“Kami harus berkolaborasi juga dengan Kemenkes,” ujar Taufik kepada para wartawan di Indonesia Arena, Jakarta, Minggu lalu.

“Tak hanya yang di pusat tapi juga di daerah, bahwa saat ini kami sangat-sangat kekurangan dokter spesialis olahraga. Hanya baru ada 122 sebesar Indonesia.”

Angka 122 itu ia sebutkan dengan nada prihatin. Bayangkan, untuk sebuah negara sebesar dan seberagam Indonesia, jumlah segitu jelas tak memadai. Kebutuhannya ada di mana-mana, dari pusat kota besar hingga daerah terpencil yang punya bibit atlet potensial.

Menurut Taufik, kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan jadi kunci. Ia berharap Kemenkes bisa mendorong lebih banyak lagi dokter untuk mengambil bidang sport medicine atau ilmu kedokteran olahraga.

“Kami sangat membutuhkan,” tegasnya.

“Dan ini tak hanya untuk di pusat tapi juga di daerah-daerah, karena banyak atlet-atlet kami di daerah yang juga ingin menjaga kondisinya juga mengantisipasi cedera.”

Permasalahan SDM ini makin krusal mengingat ada rencana besar di depan mata. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto sudah menyampaikan keinginannya membangun pusat olahraga megah seluas 5 hektare. Nah, Taufik melihat ini secara jernih. Hadirnya fasilitas super lengkap saja tidak cukup. Ia harus diimbangi dengan tenaga ahli yang kompeten, termasuk tentu saja, dokter olahraga.

“Tak bisa dipungkiri bahwa kami saat ini belum punya sports science yang memadai,” aku Taufik.

“Dan ini yang akan kami koordinasikan dengan Kemenkes untuk ditindaklanjuti. Bagaimana kita harus punya fasilitas itu, plus SDM yang menopang.”

Jadi, persoalannya kini jelas. Ada gap besar antara infrastruktur yang dibangun dan sumber daya manusia yang tersedia. Dan itu harus segera diatasi.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler