Chico Aura Buktikan Jalan Profesional Bukan Halangan untuk Cetak Gelar

- Rabu, 26 November 2025 | 04:25 WIB
Chico Aura Buktikan Jalan Profesional Bukan Halangan untuk Cetak Gelar

Perjalanan Chico Aura Dwi Wardoyo di dunia bulu tangkis bisa dibilang tak biasa. Bayangkan, pemain kelahiran Jayapura, 15 Juni 1998 ini memulai segalanya dari lapangan beralaskan beton. Kini, dia bukan cuma berhasil menembus level dunia sebagai pemain tunggal putra pertama asal Papua, tapi juga memilih jalur profesional di luar Pelatnas PBSI.

Meski begitu, mimpi besarnya tetap sama: membawa nama Papua semakin dikenal di kancah internasional.

Dari Lapangan Beton ke Karpet Internasional

Chico mulai serius main bulu tangkis sejak kelas 3 SD. Ayahnyalah yang mengenalkannya pada olahraga ini, lalu mendaftarkannya di klub lokal di Papua. Namun, sebagai atlet dari ujung timur Indonesia, tantangan fasilitas jadi hal yang langsung dia rasakan. Bandingkan dengan kondisi di Pulau Jawa yang sudah jauh lebih maju.

"Pastinya ada perbedaan, pertama dari fasilitas. Ya kayak lapangan, kalau di sini sudah karpet, di sana masih beton. Jadi dulu terbiasa untuk latihan di lapangan beton,"

ungkap Chico dalam sebuah wawancara.

Justru latihan keras seminggu tiga kali di lapangan beton itulah yang membentuk mental dan fisiknya. Dia terinspirasi oleh pemain-pemain lokal di Jayapura yang tak kalah gigih. Perjuangan itu akhirnya berbuah. Namanya mulai mencuat di turnamen nasional semacam O2SN.

Pada 2013, keputusannya pindah ke klub PB Exist di Jakarta membuka jalan lebih lebar. Dua tahun kemudian, dia berhasil masuk Pelatnas PBSI. Prestasinya pun meroket. Puncaknya, dia menjuarai Malaysia Masters 2022 dan menjadi runner-up Indonesia Masters 2023.

Tapi bagi Chico, ada mimpi yang lebih besar dari sekadar gelar individu: membuktikan bahwa anak Papua bisa bersaing di level dunia, dan suatu hari nanti tampil di Olimpiade.

Memilih Jalan Baru

Pada pertengahan Mei 2025, Chico bersama Jonatan Christie memutuskan mundur dari Pelatnas. Keputusan ini sempat disertai permintaan maaf karena merasa belum memberikan prestasi maksimal. Namun, langkah ke jalur profesional ini diambil justru karena dia ingin mencari pengalaman dan tantangan baru.

"Saya ingin mencoba pengalaman berlatih di luar dan mencoba main pro, tentunya dalam naungan di bawah PBSI,"

jelas pemain berusia 27 tahun itu.

Rupanya, keputusan berani ini membawa hasil. Tanggal 21 September 2025, Chico akhirnya memecahkan puasa gelarnya yang berlangsung hampir 27 bulan. Di Indonesia Masters 2025 Super 100 di Pekanbaru, dia berhasil mengalahkan wakil Korea Selatan, Jeon Hyeok-jin, dengan skor ketat 13-21, 21-9, dan 21-17.

Kemenangan ini seperti pembuktian bahwa pilihannya untuk berjalan mandiri bukanlah akhir, melainkan babak baru yang justru penuh harapan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar