Megawati Soekarnoputri Menangis Saat Serukan Pembangunan Dunia Baru yang Tak Tunduk pada Mesin dan Modal
Ketua Umum PDIP sekaligus Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, menitikkan air mata saat menyampaikan pidato berisi ajakan untuk membangun dunia baru. Dalam pidatonya, Megawati menekankan pentingnya sebuah peradaban yang tidak tunduk pada mesin dan modal, tetapi yang menempatkan manusia sebagai pusatnya.
"Dari Blitar ini, dari pusaran Bung Karno saya ingin menyerukan kepada dunia, mari kita bangun dunia yang baru, dunia yang tidak tunduk pada mesin dan modal tetapi yang menempatkan manusia sebagai pusat peradaban dunia, yang tidak ditentukan oleh siapa yang bisa paling berkuasa, tetapi oleh siapa yang paling berkeadaban," ujar Megawati sambil menangis. Pidato ini disampaikan dalam acara peringatan ke-70 tahun Konferensi Asia Afrika di Perpustakaan Bung Karno, Blitar, Jawa Timur, pada Sabtu (1/10/2025).
Dunia Baru yang Diatur oleh Nilai Pancasila
Megawati Soekarnoputri lebih lanjut menyerukan agar pembangunan dunia ini diatur oleh nilai-nilai luhur Pancasila. Dia menyatakan bahwa inilah momen yang tepat untuk meneruskan cita-cita Presiden pertama RI, Sukarno, dalam mewujudkan dunia yang lebih adil, beradab, dan manusiawi.
"Dunia yang tidak diatur oleh algoritma tanpa hati nurani, tetapi oleh nilai-nilai Pancasila yang memuliakan kehidupan. Inilah saatnya kita meneruskan cita-cita Bung Karno dengan membangun dunia baru yang adil, beradab dan lebih manusiawi. Itulah makna sejati dari to build the world a new," tegasnya.
Gagasan Konferensi Asia-Afrika Plus (KAA Plus)
Dalam kesempatan yang sama, Megawati juga melontarkan gagasan pembentukan 'Konferensi Asia-Afrika Plus' atau KAA Plus. Dia menegaskan bahwa peringatan 70 tahun KAA tidak boleh hanya menjadi ajang nostalgia belaka.
"Saudara-saudara sekalian, oleh sebab itu dalam pertemuan yang sederhana ini, tetapi sangat berarti mari kita matangkan KAA Plus tersebut, jangan hanya kita dengarkan, jangan kita hanya bicara saja. Mari kita berbuat karena peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika di Blitar ini bukanlah sekadar nostalgia sejarah," seru Megawati.
Dia menambahkan, "Melainkan panggilan jaman untuk menyalakan kembali obor Bandung dalam wajah baru, yakni pentingnya solidaritas global suatu persaudaraan baru antara Asia Afrika dan Amerika Latin dan siapa saja dari negara lain yang bersatu untuk menegakkan keadilan teknologi, ekonomi dan kemanusiaan."
Artikel Terkait
PM Albanese Tiba di Jakarta, Siap Teken Traktat Keamanan Bersama dengan Indonesia
Megawati Ungkap Kekhawatiran Bersama Paus Fransiskus Soal Pemanasan Global
Pemerintah Kaji RUU Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing
Lubang di Jalan Gatot Subroto Jaksel Picu Kecelakaan, Warga Minta Perbaikan Mendasar