Badan Narkotika Nasional (BNN) memperkuat strategi pencegahan penyalahgunaan narkotika di kalangan usia muda seiring meningkatnya jumlah pengguna pada kelompok remaja. Kepala BNN Komjen Pol Suyudi Ario Seto menekankan bahwa ancaman narkotika dapat menghambat upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045 jika tidak ditangani serius.
"Narkotika tidak hanya merampas kesehatan seseorang. Narkotika merampas masa depan keluarga, merusak kualitas generasi, dan akhirnya menghancurkan masa depan bangsa," ujar Suyudi beberapa waktu lalu.
BNN mencatat prevalensi nasional penyalahgunaan narkotika mencapai 2,11 persen atau sekitar 4,15 juta jiwa. Peningkatan terbesar terjadi pada kelompok usia 15-24 tahun, yang merupakan generasi produktif dan calon penggerak pembangunan nasional. Kondisi ini menunjukkan remaja menjadi kelompok paling rentan, baik karena faktor lingkungan maupun pola penyebaran narkotika yang terus menyesuaikan gaya hidup generasi muda.
Gerakan Ananda Bersinar
Menghadapi tantangan tersebut, BNN meluncurkan Gerakan Ananda Bersinar (Aksi Nasional Anti-Narkotika Dimulai dari Anak Bersih Narkotika). Program ini menempatkan anak sebagai fokus utama, tidak hanya memberikan edukasi bahaya narkoba, tetapi juga membangun karakter, memperkuat ketahanan diri, meningkatkan kecakapan hidup, serta memperkuat peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial.
"Gerakan Ananda Bersinar kami rancang agar berjalan searah dengan agenda besar pembangunan sumber daya manusia yang dipimpin oleh Bapak Presiden. Sebab anak yang sehat secara fisik, tercukupi gizinya, memperoleh pendidikan yang baik, tetapi tidak memiliki daya tangkal terhadap narkotika, tetap berada dalam risiko kehilangan masa depannya," kata Suyudi.
Untuk memperkuat ekosistem pencegahan, BNN berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mengintegrasikan kurikulum anti-narkotika ke dalam proses pembelajaran. BNN juga menginisiasi penguatan gerakan melalui Saka Narkotika atau Saka Anti-Narkotika.
Layanan Telerehabilitasi
Di sisi lain, BNN mengembangkan layanan rehabilitasi yang lebih mudah diakses. Perwakilan Deputi Bidang Rehabilitasi BNN Yosi Eka Putri menjelaskan inovasi terbaru adalah telerehabilitasi, layanan berbasis digital yang memungkinkan konsultasi secara daring bagi pengguna dengan tingkat ringan hingga sedang.
"Generasi Z dan kelompok usia muda lainnya lebih nyaman dengan layanan berbasis digital. Karena itu, layanan telerehabilitasi menjadi salah satu cara untuk mendekatkan akses rehabilitasi kepada masyarakat yang membutuhkan," jelas Yosi.
Bagi pengguna dengan ketergantungan berat, BNN mengarahkan mereka menjalani rehabilitasi rawat inap. BNN juga memperkuat peran sekolah dengan meningkatkan kapasitas guru dalam deteksi dini terhadap siswa yang menunjukkan indikasi penyalahgunaan narkoba. Pendekatan peer support atau dukungan sebaya dinilai efektif karena remaja sangat dipengaruhi lingkungan pergaulan.
Program Berbasis Masyarakat
BNN mengembangkan program rehabilitasi berbasis masyarakat, seperti Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM), yang mengedepankan prinsip dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat. IBM telah diterapkan di 1.437 wilayah, namun masih jauh dari total lebih dari 50 ribu desa di Indonesia. Selain itu, program rehabilitasi berbasis masyarakat di sekitar 10 provinsi telah memperoleh penghargaan sebagai inovasi nasional dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
Kaitan dengan Kesehatan Mental
BNN menilai tantangan terbesar adalah semakin mudanya usia pengguna narkoba. Penggunaan zat pada usia muda dapat meningkatkan risiko ketergantungan dan berkontribusi terhadap gangguan kesehatan mental seperti depresi, bipolar, hingga gangguan kejiwaan lainnya. Kebiasaan merokok sejak dini, termasuk rokok elektrik, juga menjadi perhatian karena berpotensi menjadi pintu masuk perilaku berisiko.
"Harapannya, melalui kombinasi pencegahan, pemberdayaan masyarakat, serta kemudahan akses rehabilitasi, upaya penanggulangan narkoba dapat dilakukan secara lebih sistematis," pungkas Yosi.
Artikel Terkait
BNN Ubah Petani Ganja Jadi Petani Kopi untuk Putus Rantai Narkoba
Menko Polkam Apresiasi Kinerja BNN, Ajak Semua Pihak Perangi Narkotika
BNN: 4,15 Juta Penduduk Terpapar Narkotika, Remaja Paling Rentan
BNR Rilis Tema dan Logo HANI 2026, Fokus pada Perlindungan Generasi Muda