Badan Narkotika Nasional (BNN) tidak hanya mengandalkan penindakan hukum untuk memberantas narkoba, tetapi juga pendekatan sosial ekonomi. Salah satu langkah konkretnya adalah mengubah petani ganja menjadi petani kopi di wilayah rawan kultivasi.
Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto menyampaikan hal itu dalam acara Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional di Bogor, Jawa Barat, Kamis (23/7/2026). Menurutnya, pemberdayaan masyarakat menjadi kunci untuk memutus akar masalah yang membuat sebagian orang terjerat dalam lingkaran narkotika.
"Pada bidang pemberdayaan masyarakat, BNN juga terus bekerja untuk memutus akar sosial ekonomi yang membuat sebagian masyarakat dalam lingkaran kerawanan narkotika," ujar Suyudi dalam pidatonya.
Upaya ini dijalankan melalui program Grand Design Alternative Development (GDAD). Program tersebut bertujuan mengubah pola pikir masyarakat agar tidak lagi menanam tanaman ilegal, seperti ganja.
Suyudi menjelaskan bahwa program GDAD sudah dimulai sejak era kepemimpinan Budi Waseso (Buwas) dan terus dilanjutkan hingga kini.
"Di wilayah rawan kultifasi ganja seperti Gayo Lues Aceh, kami melaksanakan kegiatan GDAD. Ini di jaman Pak Buwas juga, kita lanjutkan hari ini," katanya.
Artikel Terkait
BNN Gagalkan Sabu Cair 2,6 Ton di Riau, Komisi III Minta Jaringan Bandar Dikejar
BNN Gagalkan Penyelundupan 2,6 Ton Narkoba Cair di Perairan Karimun
BNN dan Bea Cukai Sita 2,6 Ton Narkoba Cair dari Kapal Asing di Kepulauan Riau
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 2,6 Ton Sabu Cair dan 1,5 Juta Batang Rokok Ilegal di Kepulauan Riau