PKB Beri Penghargaan untuk Lima Kiai atas Jasa dalam Dakwah dan Kebangsaan

- Jumat, 24 Juli 2026 | 13:50 WIB
PKB Beri Penghargaan untuk Lima Kiai atas Jasa dalam Dakwah dan Kebangsaan

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memberikan penghargaan kepada lima tokoh kiai yang dinilai berjasa besar dalam mengembangkan dakwah Islam sekaligus menanamkan nilai-nilai kebangsaan, Pancasila, dan cinta Tanah Air. Penghargaan itu diserahkan oleh Plt Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Manarul Hidayah dan Sekjen DPP PKB M Hasanuddin Wahid dalam puncak peringatan Harlah ke-28 PKB di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta.

Wakil Ketua Umum DPP PKB Cucun Ahmad Syamsurijal menyatakan, kelima tokoh tersebut merupakan ulama yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk pendidikan pesantren, dakwah Islam, serta penguatan persatuan bangsa. Menurut Cucun, penghargaan ini merupakan bentuk penghormatan PKB kepada para kiai yang konsisten mengajarkan nilai-nilai Islam yang berpadu dengan semangat kebangsaan.

"Penghargaan PKB ini kami persembahkan kepada para kiai yang berdakwah menanamkan nilai-nilai keislaman dalam satu tarikan nafas yang menyatu dengan nasionalisme, Pancasila, dan cinta Tanah Air, menggunakan bahasa rakyat yang mudah dipahami oleh umat," ujar Cucun dalam keterangan tertulis, Jumat (24/7/2026).

Menurut Cucun, para kiai tersebut telah menunjukkan bahwa kecintaan kepada Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengamalan ajaran Islam. "Sepanjang hidup beliau-beliau mendedikasikan diri untuk mendidik umat dan rakyat bahwa mencintai Indonesia sama pentingnya dengan mencintai agamanya. Menerapkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sama mulianya dengan melaksanakan rukun Islam," kata Cucun.

Lima tokoh yang menerima penghargaan itu adalah KH Sahal Mahfudh, KH Hasyim Muzadi, KH Imron Hamzah, KH Ahmad Faqih, dan KH Bukhori Masruri. Masing-masing diwakili oleh keluarga atau kerabat dekat.

KH Sahal Mahfudh merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah, dan pernah menjabat Rais Aam PBNU periode 1999-2014. Ulama kharismatik ini dikenal aktif berdakwah ke berbagai daerah dengan membawa pesan keislaman, akhlak, nasionalisme, Pancasila, dan cinta Tanah Air.

KH Hasyim Muzadi, Pengasuh Ponpes Al Hikam dan Ketua Umum PBNU periode 2000-2010, dikenal sebagai ulama sekaligus intelektual yang konsisten menyebarkan nilai-nilai Islam moderat, nasionalisme, dan Pancasila. Dakwahnya menjangkau berbagai kalangan, dari pengajian di kampung hingga forum akademik dan dialog peradaban internasional.

KH Imron Hamzah dikenal sebagai mubalig dan orator berkarisma dengan gaya dakwah yang tegas, berwibawa, namun mudah dipahami. Selain aktif berdakwah, ia pernah menjabat Ketua PWNU Jawa Timur serta anggota MPR RI pada periode 1987-1997.

KH Ahmad Faqih, Pengasuh Ponpes Al-Musri, Cianjur, dikenal sebagai kiai pejuang yang mengabdikan hidupnya untuk agama dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia pernah ditahan tentara Jepang karena terlibat perjuangan bersama KH Zainal Mustofa melawan penjajahan. Ponpes yang didirikannya juga pernah dibakar tentara Belanda sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

KH Bukhori Masruri dikenal sebagai ulama, seniman, dan budayawan yang menjadikan seni sebagai media dakwah. Ia mengajarkan nilai-nilai Islam, nasionalisme, Pancasila, dan persatuan bangsa melalui karya-karyanya. KH Bukhori merupakan pencipta lagu 'Perdamaian' yang dipopulerkan grup Bimbo dan juga dikenal dengan nama pena Abu Ali Haidar. Ia pernah menjabat Ketua PWNU Jawa Tengah periode 1985-1995.

Melalui penghargaan ini, PKB menegaskan upayanya untuk terus merawat warisan perjuangan para ulama dan pesantren yang telah meletakkan fondasi kuat bagi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Keteladanan para kiai tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam menjaga harmoni antara nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan keutuhan NKRI.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags