MPR Ajak Pelajar Gen Z Jadi Garda Terdepan Lawan Hoaks di Era Digital

- Rabu, 15 Juli 2026 | 15:25 WIB
MPR Ajak Pelajar Gen Z Jadi Garda Terdepan Lawan Hoaks di Era Digital

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Sekretariat Jenderal MPR RI Budi Muliawan mengajak pelajar Generasi Z menjadi garda terdepan melawan hoaks di era digital. Ajakan itu disampaikan Budi saat menjadi narasumber dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMA Islam Al Azhar 19 Ciracas di Jakarta, Selasa (14/7).

Dalam paparannya yang bertajuk 'Membangun Karakter Kebangsaan di Era Digital', Budi mengatakan Generasi Z menghadapi tantangan berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka lahir dan tumbuh bersama perkembangan internet sehingga setiap informasi harus disaring dan diverifikasi sebelum dipercaya atau disebarluaskan.

Menurut Budi, tantangan generasi muda saat ini bukan lagi perang fisik, melainkan perang melawan hoaks, disinformasi, manipulasi informasi, hingga penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI). Kemampuan berpikir kritis menjadi bekal penting bagi setiap pelajar.

"Karakter kebangsaan tidak cukup dipelajari di dalam kelas, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, termasuk saat bermedia sosial. Salah satu bentuk bela negara di era digital adalah tidak mudah percaya pada hoaks dan tidak ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya," ujar Budi dalam keterangan tertulis, Rabu (15/7/2026).

Budi juga mengingatkan algoritma media sosial dapat membentuk cara pandang seseorang karena terus menyajikan konten yang sesuai dengan kebiasaan penggunanya. Kondisi itu berpotensi menciptakan filter bubble atau gelembung informasi yang membuat seseorang hanya menerima sudut pandang tertentu.

Karena itu, ia mendorong para pelajar untuk membiasakan diri berdiskusi secara terbuka, menghargai perbedaan pendapat, serta memperluas wawasan dari berbagai sumber informasi yang kredibel. Selain itu, Budi menekankan pentingnya etika digital dengan menghindari perundungan siber (cyberbullying), ujaran kebencian, serta penyebaran konten negatif yang dapat merusak persatuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Budi juga mengajak para siswa memahami sejarah perjuangan bangsa, mulai dari Sumpah Pemuda hingga Proklamasi Kemerdekaan. Menurutnya, pemahaman sejarah menjadi fondasi penting untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kepercayaan diri sebagai generasi penerus bangsa.

Kepada para peserta MPLS, Budi memperkenalkan Empat Pilar MPR RI, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. Ia menjelaskan penguatan nilai-nilai kebangsaan menjadi benteng penting agar generasi muda tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan maupun upaya yang dapat memecah belah persatuan.

Para pelajar juga didorong memanfaatkan teknologi digital secara positif dan produktif, baik untuk meningkatkan kompetensi, mengembangkan kreativitas, mempromosikan budaya Indonesia, maupun menyebarluaskan prestasi anak bangsa.

Di akhir paparannya, Budi berpesan agar para siswa terus membangun karakter melalui penguatan nilai-nilai agama, menghormati orang tua dan guru, serta aktif mengikuti kegiatan organisasi di sekolah sebagai sarana membangun kepemimpinan dan kepedulian sosial.

Sesi dialog berlangsung hangat dan interaktif. Para pelajar mengajukan berbagai pertanyaan seputar kebebasan berekspresi di media sosial, ancaman radikalisme digital, hingga peran MPR RI dalam membuka ruang partisipasi bagi generasi muda.

Salah seorang siswi, Salwa, yang aktif menulis puisi bertema politik di media sosial, menanyakan apakah MPR RI menyediakan ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan dan aspirasi secara terbuka. Menanggapi hal itu, Budi mengapresiasi semangat literasi para pelajar. Ia menjelaskan MPR RI menyediakan berbagai kanal komunikasi, seperti situs web resmi, Instagram, YouTube, dan media sosial lainnya yang dapat dimanfaatkan masyarakat, termasuk pelajar, untuk memperoleh informasi sekaligus menyampaikan aspirasi secara santun dan bertanggung jawab.

Budi juga mengundang para siswa untuk berkunjung ke Gedung MPR RI guna mengenal lebih dekat lembaga negara tersebut, sekaligus memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia, termasuk perpustakaan MPR RI yang memiliki koleksi literatur kebangsaan dan konstitusi.

Sementara itu, pertanyaan mengenai ancaman radikalisme di ruang digital disampaikan oleh seorang siswa bernama Aufa. Menurut Budi, langkah paling penting untuk menangkal paham radikal adalah membiasakan diri melakukan verifikasi terhadap setiap informasi serta tidak mudah terpengaruh narasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

Ia menambahkan peran orang tua dan guru tetap sangat penting dalam mendampingi aktivitas digital anak, termasuk penggunaan media sosial maupun permainan daring (online game). Penguatan karakter dan nilai-nilai kebangsaan sejak dini menjadi fondasi penting untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, akhlak mulia, serta tanggung jawab sebagai warga negara.

Menutup kegiatan tersebut, Budi berharap dialog kebangsaan bersama pelajar dapat terus dilakukan sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi muda yang kritis, berkarakter, cinta tanah air, serta mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags