China menuduh Amerika Serikat telah menyeret kawasan Timur Tengah ke ambang kehancuran dengan melancarkan perang melawan Iran. Tuduhan itu dilontarkan Beijing dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB yang membahas kelompok Houthi, Rabu (15/7/2026).
Situasi di Timur Tengah kian memanas setelah Houthi kembali menyerang Arab Saudi, meruntuhkan gencatan senjata informal yang bertahan empat tahun terakhir. Konflik ini memperburuk ketegangan yang sudah dipicu oleh pertempuran antara AS dan Israel melawan Iran. Gencatan senjata rapuh antara Washington dan Teheran pun kolaps, dengan kedua negara saling serang dalam beberapa hari terakhir.
Dalam rapat DK PBB, utusan China untuk PBB, Sun Lei, melontarkan kritik pedas. "AS memikul tanggung jawab yang tidak terbantahkan atas situasi ini di Yaman dan Laut Merah," ujarnya.
Sun menambahkan, "AS-lah yang menghambat upaya Dewan untuk mengakhiri permusuhan, serta membiarkan krisis di Gaza terus berlanjut dan ketegangan meluas." Ia juga menegaskan, "Tanpa mandat dari Dewan Keamanan, dan di tengah berlangsungnya negosiasi antara AS dan Iran, AS melancarkan serangan militer terhadap Iran, yang sekali lagi menyeret situasi di kawasan tersebut ke tepi jurang yang berbahaya."
Artikel Terkait
Iran Serang Pangkalan Udara AS di Yordania, Targetkan Jet Tempur F-18
Iran dan AS Kembali ke Jalur Konflik, Selat Hormuz Jadi Arena Tawar-Menawar Baru
Serangan AS-Iran Meluas ke Iran Selatan, Harga Minyak Melonjak
AS Kembali Serang Iran, Trump Ancam Hancurkan Pembangkit Energi