Trump Bantah Transit di Inggris Terkait Ancaman, Iran Peringatkan Konsekuensi Serangan

- Kamis, 09 Juli 2026 | 18:15 WIB
Trump Bantah Transit di Inggris Terkait Ancaman, Iran Peringatkan Konsekuensi Serangan

Presiden AS Donald Trump membantah bahwa transit singkatnya di pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) untuk berganti pesawat dalam perjalanan pulang dari KTT NATO di Turki terkait dengan ancaman keamanan. "Saya selalu punya ancaman. Saya nomor satu di daftar mereka," katanya kepada wartawan. Trump dan rombongan terbang dari Ankara ke RAF Mildenhall di Suffolk, Inggris timur, menggunakan Air Force One lama sebelum beralih ke model baru yang dihadiahkan Kerajaan Qatar tahun lalu. Sebelumnya, Trump menulis di media sosial bahwa pesawat baru itu dikirim ke pangkalan udara Inggris untuk memberi personel militer AS "kesempatan untuk melihat pesawat itu dari dekat." Ia juga mengatakan terbang dari Turki ke Inggris menggunakan Air Force One lama "demi nostalgia." New York Times melaporkan bahwa pergantian pesawat itu dilakukan atas permintaan Dinas Rahasia AS sebagai langkah pencegahan keamanan, meski bukan karena ancaman spesifik.

Dalam penerbangan pulang ke Washington pada Kamis pagi, Trump mengklaim Iran "baru saja menelepon" dan "sangat ingin membuat kesepakatan." Namun ia meragukan komitmen Iran: "Saya tidak tahu apakah mereka layak untuk membuat kesepakatan. Saya tidak tahu apakah mereka akan menepati kesepakatan itu, itulah masalahnya." Ketika ditanya mengapa pasukan Iran masih menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz jika mereka berminat pada kesepakatan, Trump menjawab bahwa mereka "agak gila." Pernyataan itu dilontarkan setelah AS melancarkan gelombang serangan baru ke Iran pada Rabu malam hingga Kamis pagi. Sebelumnya, Trump kerap melaporkan adanya telepon atau percakapan yang kemudian dibantah oleh pihak lain.

Iran: Hormuz Hanya Dibuka dengan Syarat Kami

Kepala perunding Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan AS bahwa serangan militer yang terus berlanjut tidak akan ada gunanya. "Jangan meronta-ronta sia-sia, atau kamu akan semakin tenggelam," tulisnya di media sosial Kamis pagi. "Selat Hormuz hanya akan dibuka dengan 'pengaturan Iran', bukan ancaman Amerika." Ghalibaf, yang juga Ketua Parlemen Iran, menegaskan bahwa Iran akan terus membalas setiap serangan: "Amerika belum juga belajar bahwa intimidasi dan ingkar janji tidak lagi tanpa konsekuensi. Biar saya jelaskan dengan lugas: jika kamu menyerang, kamu akan dibalas."

Mohsen Rezaee, perwira militer Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan penasihat senior pemimpin tertinggi, menyatakan Rabu malam bahwa musuh-musuh Iran akan "dihukum berat." Dalam unggahannya, ia mengutip ayat Al-Quran: "Maka barang siapa menyerang kamu, seranglah dia setimpal dengan serangannya terhadap kamu," lalu menambahkan dalam bahasa Persia: "Musuh agresor dan para sekutunya akan dihukum berat."

Trump Sebut Serangan sebagai Pembalasan

Trump menyebut gelombang serangan terbaru ke Iran pada Rabu malam sebagai "pembalasan atas pengeboman kapal-kapal oleh Iran kemarin" di Selat Hormuz. Dalam unggahan di media sosial, ia menulis: "Jika ini terjadi lagi, dampaknya akan jauh lebih buruk!" Iran menyerang tiga kapal kargo di Selat Hormuz pada Selasa, yang tampaknya mendorong Trump menyatakan gencatan senjata yang rapuh itu berakhir dan melanjutkan serangan ke Iran. Sebelumnya, Trump melontarkan pernyataan yang tampak saling bertentangan: ia mengatakan aksi saling serang ini tidak akan berujung pada tindakan militer jangka panjang dan bahwa "apa pun yang terjadi akan berlangsung sangat cepat," namun juga menyiratkan militer AS mungkin akan "menyelesaikan pekerjaan ini sampai tuntas."

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa gelombang serangan Amerika terbaru ke Iran akan lebih besar dibanding yang dilancarkan Selasa malam. Selasa malam, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim telah menghantam lebih dari 80 target, termasuk sistem pertahanan udara Iran, pos radar pesisir, dan 60 kapal kecil IRGC. Sementara itu, IRGC menyatakan telah membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain sepanjang Rabu.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags