Iran mengumumkan rencana pengenaan tarif baru bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, sebuah langkah yang langsung menuai penolakan keras dari Amerika Serikat. Namun, Duta Besar Iran untuk China, Abdolreza Rahmani Fazli, menegaskan bahwa negara-negara sahabat akan mendapatkan perlakuan khusus.
Kebijakan ini muncul setelah kesepakatan awal antara Iran dan AS untuk mengakhiri perang, yang memberikan akses gratis bagi kapal komersial selama 60 hari. Nasib setelah periode itu masih belum jelas.
Dalam pernyataannya di Forum Perdamaian Dunia di Beijing, Fazli menjelaskan bahwa Iran tengah berkoordinasi dengan Oman untuk merancang pengaturan baru di jalur air strategis tersebut. "Sebagai negara di mana Hormuz merupakan bagian dari perairan teritorialnya, kami pasti akan mengenakan biaya layanan," ujarnya, Senin (6/7/2026). Ia menegaskan bahwa biaya itu bukanlah "pungutan tol."
"Pengaturan baru ini akan berkaitan dengan jaminan keamanan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, pengawasan jalur pelayaran kapal... dan juga menjamin serta menangani konsekuensi lingkungan dari banyaknya kapal," kata Fazli. Ia menambahkan, "Kami pasti akan mempertimbangkan perlakuan khusus untuk negara-negara yang bersahabat dengan kami dan secara khusus mendukung kami selama masa-masa sulit."
Artikel Terkait
Hari Kedua Pemakaman Ali Khamenei, Mojtaba Tak Terlihat
Putra Pemimpin Tertinggi Iran Tak Hadiri Pemakaman Ayahnya karena Ancaman Keamanan
Iran Jajaki Kembali Penjualan Minyak ke Jepang di Tengah Relaksasi Sanksi AS
Iran Akan Kenakan Biaya Layanan di Selat Hormuz, China dan Negara Sahabat Dapat Perlakuan Khusus