Buck Moon dan Hujan Meteor Warnai Langit Juli 2026

- Minggu, 28 Juni 2026 | 13:30 WIB
Buck Moon dan Hujan Meteor Warnai Langit Juli 2026

Sepanjang Juli 2026, langit malam akan menyajikan sejumlah pertunjukan astronomi yang menarik. Mulai dari pertemuan planet, bulan purnama yang dikenal sebagai Buck Moon, hingga hujan meteor yang menghiasi langit semua bisa disaksikan tanpa teleskop asalkan cuaca mendukung.

Berdasarkan kalender astronomi dari In The Sky, puncak fenomena terjadi pada akhir bulan. Buck Moon, sebutan untuk bulan purnama Juli, akan mencapai fase penuh pada 29 Juli pukul 14.35 UTC atau sekitar pukul 21.35 WIB, 22.35 Wita, dan 23.35 WIT. Nama Buck Moon berasal dari tradisi masyarakat adat Amerika Utara yang mengaitkannya dengan masa tumbuhnya tanduk rusa jantan. Bulan purnama ini bisa dinikmati sepanjang malam tanpa alat bantu.

Sehari setelahnya, 30 Juli, dua hujan meteor tahunan mencapai puncaknya secara bersamaan: Southern Delta Aquariid dan Alpha Capricornid. Southern Delta Aquariid dikenal menghasilkan puluhan meteor per jam dalam kondisi langit gelap, sementara Alpha Capricornid meskipun lebih jarang, kerap memunculkan bola api yang terang. Waktu terbaik mengamatinya adalah setelah tengah malam hingga menjelang MURIANETWORK.COM, di lokasi yang minim polusi cahaya.

Fenomena Langit Lainnya

Selain dua peristiwa utama itu, sejumlah fenomena lain juga terjadi sepanjang Juli. Pada 1 Juli, Merkurius berada di titik aphelion, posisi terjauh dari Matahari. Dua hari kemudian, Mars mengalami konjungsi dan pendekatan sangat dekat dengan Uranus. Bumi mencapai aphelion pada 6 Juli, titik terjauh dari Matahari dalam orbit tahunannya.

Pada 7 Juli, Bulan berkonjungsi dengan Saturnus bersamaan dengan fase kuartal terakhir. Tiga hari setelahnya, Bulan melintas dekat gugus bintang Pleiades (M45), lalu berkonjungsi dengan Mars pada 11 Juli. Fase Bulan Baru terjadi pada 14 Juli, dan tiga hari kemudian Bulan sabit berdekatan dengan Venus di langit senja. Fase Perbani Awal jatuh pada 21 Juli, sementara Saturnus mulai bergerak retrograde pada 26 Juli. Jupiter berada pada konjungsi Matahari pada 29 Juli, sehingga sulit diamati.

Tips Pengamatan

Sebagian besar fenomena astronomi Juli bisa diamati dengan mata telanjang. Agar hasilnya optimal, pilih lokasi dengan pandangan langit luas dan minim polusi cahaya. Cuaca cerah menjadi faktor penentu. Penggunaan aplikasi peta langit juga bisa membantu menemukan posisi bulan, planet, atau rasi bintang yang menjadi lokasi munculnya fenomena tersebut.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags