Dari Dapur Seng di Cikarang, Siti Raup Omzet Ratusan Juta dari Usaha Kikil

- Minggu, 28 Juni 2026 | 12:20 WIB
Dari Dapur Seng di Cikarang, Siti Raup Omzet Ratusan Juta dari Usaha Kikil

Di balik bangunan berdinding seng di pinggir Jalan Raya Serang-Setu, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Siti Fatmawati mengolah kikil menjadi tumpuan penghasilan keluarganya. Usaha yang dimulai dari coba-coba sejak 2012 itu kini mampu memproduksi ratusan kilogram kikil setiap hari untuk dipasarkan ke sejumlah wilayah.

Sekilas, tempat produksi itu tak terlihat seperti pusat pengolahan. Bangunan sederhana dengan dominasi kayu dan seng berada sedikit menurun dari jalan utama. Begitu masuk, deretan drum plastik biru memenuhi area pengolahan. Lantai yang basah menjadi pemandangan sehari-hari karena proses perendaman. Di sudut, keranjang berisi kikil setengah jadi menanti langkah selanjutnya.

Cerita Siti membangun usaha ini berawal dari keputusan berhenti kerja dan suami yang harus pulang pergi ke luar daerah. Pada 2012, ia mulai merintis usaha kikil kecil-kecilan. Awalnya, ia mengirimkan hasil olahannya ke tukang tahu di pasar. Di luar dugaan, dagangannya laku. Perempuan 51 tahun itu pun mulai menawarkan sendiri ke pasar-pasar.

"Yang penting ada barang, saya masak," kata Siti saat ditemui di tempat produksinya beberapa waktu lalu.

Setelah usaha mulai berkembang, Siti mengajak suaminya fokus mengelola bisnis ini. "Soalnya suami harus bepergian jauh, gaji pun harus nunggu tiga bulan," ujarnya. Perjalanan merintis usaha tak selalu mulus. Ia beberapa kali pindah tempat produksi, dari rumah hingga menyewa bangunan sekarang dengan biaya Rp12 juta per tahun. Bangunan itu dulunya tak terawat; Siti bersama keluarga menatanya agar layak jadi tempat pengolahan.

Perempuan asal Kebumen itu belajar mengolah kikil secara autodidak, mendengarkan saran pedagang lain. Prosesnya dimulai dengan menggoreng bahan baku, merebus, lalu merendam selama dua hari. "Setelah itu baru keluar ke pasar," jelasnya.

Dalam sehari, Siti bisa mengirim dua hingga tiga kuintal kikil ke Pasar Serang, Sukamakmur, dan Sukabungah Bekasi. Anaknya yang bertugas mengantar. Bahan baku diperoleh dari Cibinong dan Sentul, Kabupaten Bogor. Dalam sebulan, ia bisa membeli sekitar 2,5 ton. Setelah perendaman, berat kikil bertambah karena menyerap air.

Dari usaha ini, Siti mengaku memperoleh keuntungan harian Rp700 ribu hingga Rp1 juta. Sebulan, keuntungannya bisa mencapai lebih dari Rp20 juta. Untuk pengembangan, ia mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp200 juta dengan tenor empat tahun. "Digunakan untuk beli bahan dan mengembangkan usaha," katanya. Tambahan modal membuat proses produksi lebih lancar. "Biar semakin lancar lah usaha kami ini," ujar Siti.

Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, Siti bersyukur usahanya masih bertahan. Menurutnya, KUR BRI membantu menjaga stabilitas. "Kalau saya bilang nggak terlalu turun banget, nggak," katanya.

Dukungan BRI untuk UMKM

Mantri BRI Unit Serang Bekasi, Dewi Sanny Simanjuntak, mengatakan BRI terus berkomitmen membantu masyarakat meningkatkan usahanya. Proses pengajuan KUR BRI dilakukan dengan melihat prospek serta kebutuhan nasabah. "Makanya ketika mereka mengajukan, kita menilai di lapangan dan kita anggap layak untuk dikembangkan lagi, ya dengan harapan semakin kita memberikan tambahan modal, akan memajukan usaha mereka dan akan memajukan juga omzet," kata Dewi.

Ia berharap pinjaman modal yang diberikan BRI dapat membantu pelaku UMKM meningkatkan kapasitas usahanya. "Besar harapan kami dengan memberikan kredit ini sangat membantu untuk mereka para nasabah kami itu untuk berproduktif. Semakin bisa percaya diri bahwa ada nih Bank BRI, khususnya ya, siap untuk membantu memajukan UMKM, apalagi dibantu dengan adanya program KUR subsidi bunga dari pemerintah," ujar Dewi.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags