PSI Balas Kritik PDIP soal Safari Jokowi: Kelompok Kecewa yang Tak Bisa Move On

- Minggu, 28 Juni 2026 | 08:10 WIB
PSI Balas Kritik PDIP soal Safari Jokowi: Kelompok Kecewa yang Tak Bisa Move On

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menanggapi kritik PDIP yang menilai safari politik Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) ke berbagai daerah sebagai manuver kampanye untuk memenangkan anak-anaknya. PSI menyebut kritik tersebut lahir dari kekecewaan karena Jokowi telah meninggalkan PDIP.

"Apapun yang dilakukan oleh Pak Jokowi itu memang sampai kapan pun akan menjadi perhatian dari kelompok mereka ini, kelompok kecewa ini, yang mengatakan sudah tidak peduli, tetapi peduli. Ini sein kanan, masuk got, gitu loh. Sudah tidak peduli, tapi membahas. Jadi apalagi dari partai yang lagi gundah gulana ditinggal ini, ya kalau kita tanggapi nanti justru mereka menjadi tidak produktif lagi," kata Ketua DPP PSI, Bestari Barus saat dihubungi, Minggu (28/6/2026).

Bestari mengkritik PDIP dalam mengelola politisinya. Ia pun mengungkit kemenangan Jokowi dalam kontestasi politik bukan semata karena pengaruh partai berlambang banteng itu.

"Ya, nol di dalam attitude, ber-attitude-nya nol gitu. Karena memang harus jujur kita bahwa siapa sih kader terbaik PDI-P pada masa itu? Hanya Pak Jokowi. Yang lainnya nyalon nggak pernah menang, Bu Megawati nggak menang dua kali. Ganjar coba-coba nggak menang," jelasnya.

"Pak Jokowi menang, artinya bukan karena kehebatan PDI-P juga. Ya hebatnya Pak Jokowi mampu meyakinkan masyarakat, rakyat bangsa ini, bahwa dia terbaik, gitu, menang dia. Dan hari ini sejarah mencatat, PDI-P nggak pernah menang presiden lagi karena dia sudah ditinggal oleh Pak Jokowi mentah-mentah gitu," imbuhnya.

Bestari menyebut PSI percaya diri bisa unjuk gigi dalam kontestasi politik 2029 mendatang. Ia menyatakan PSI siap melawan PDIP di tahun tersebut.

"Kita nggak terlalu menghitung PDI-P itu karena pasti rontok. Bagaimana rakyat mau menerima? kita tadi ingin, kita tadi khawatirnya kalau PDI-P ini mulutnya bagus terus, itu mungkin akan menjadi lawan yang sangat berat bagi PSI. Tetapi karena mulutnya tidak bagus akibat ditinggal Pak Jokowi, kekecewaan yang berlebihan dan tidak pernah mau move on, ya, nanti 2029 kita membuktikan itu," kata dia.

"Sangat pede sekali lah. Yang penting catatannya kami tidak menggunakan uang rakyat. Kalau mereka kan masih gunakan uang rakyat untuk turun ke bawah bina-bina rakyat, katanya, tapi pakai uang rakyat," imbuhnya.

Sebelumnya, Ketua DPP PDIP Guntur Romli mengkritik Jokowi yang mengawali safari dari Lampung dengan setelan berlogo PSI. PDIP menilai aksi itu sebagai manuver kampanye politik untuk memenangkan anak-anaknya.

"Itu kampanye politik untuk 2029, buat pemenangan anak-anaknya dia. Gibran yang kemungkinan besar tidak bersama Prabowo lagi. Dan meloloskan PSI yang diketuai oleh Kaesang," kata Guntur kepada wartawan, Jumat (26/6).

"Semua demi masa depan anak-anaknya Jokowi harus kerja keras. Dulu sebagai 'petugas partai' PDI Perjuangan, Jokowi ditugaskan jadi wali kota, gubernur dan presiden untuk melayani rakyat. Sekarang Jokowi jadi 'jongos partai PSI' dieksploitasi untuk kepentingan elektoral semata," ujarnya.

Guntur mengungkit hubungan PDIP dan Jokowi telah berakhir sejak pemecatan oleh partai terhadap Jokowi pada akhir 2024. Dia menegaskan langkah Jokowi melakukan safari tidak berdampak pada PDIP.

"Hubungan Jokowi dengan PDI Perjuangan sudah berakhir sejak keluar surat DPP PDI Perjuangan yang memecat Jokowi pada 4 Desember 2024. Kampanye politik Jokowi itu tidak akan berdampak pada PDI Perjuangan," ujar dia.

Guntur menyebut partainya tak bisa digaet karena faktor Jokowi. Dia lantas mewanti-wanti partai lain yang menurutnya akan digaet Jokowi.

"Buktinya orang-orang yang berhasil digaet bukan dari PDI Perjuangan tapi dari NasDem, Ahmad Ali, Bestari Barus, Rusdi Masse, dan lain-lain, parpol-parpol lain yang mestinya harus lebih waspada," kata Guntur.

"Juga untuk kepentingan Pilpres 2029 buat Gibran, bukan buat Prabowo. Karena dari pengamalan Jokowi sendiri, tidak ada namanya wapres yang sama di 2 periode. Keliling kampanye politik hanya menegaskan ambisi kekuasaan dari dinasti Jokowi," lanjutnya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags