Pameran Jakarta Fair Kemayoran 2026 terus menjadi lokomotif bagi pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ajang tahunan ini tidak hanya menjadi etalase produk lokal, tetapi juga terbukti mampu mendongkrak pendapatan para pelaku usaha secara signifikan.
Salah satu pedagang UMKM, Ekil, yang menjual sate dan es tebu, mengaku omzetnya tembus Rp5 juta hingga Rp6 juta per hari pada hari kerja. Angka itu melonjak dua kali lipat menjadi Rp10 juta hingga Rp11 juta saat akhir pekan. Meskipun harga bahan baku terus merangkak naik, para pedagang tetap berkomitmen menjaga kualitas produk. Mereka memandang Jakarta Fair sebagai momentum strategis untuk memperluas jangkauan pasar.
“Di sektor makanan dan minuman, Jakarta Fair menjadi katalis bagi UMKM. Pemasaran di sini sangat bagus untuk kami,” ujar Ekil, Kamis, 25 Juni 2026.
Dampak positif yang sama dirasakan oleh Yungyumg, usaha kuliner yang menyajikan masakan khas Bali. Bagi mereka, pameran ini adalah panggung untuk memperkenalkan cita rasa daerah sekaligus menggenjot penjualan.
“Jakarta Fair membantu bisnis kami karena jumlah pengunjung sangat besar. Selain peningkatan penjualan, kami bisa memperkenalkan masakan autentik Bali kepada pengunjung dari berbagai daerah,” kata pemilik Yungyumg.
Jakarta Fair terus menjadi wadah pemberdayaan bagi UMKM dari berbagai penjuru Indonesia. Kehadiran mereka di pameran ini tidak hanya menggerakkan roda ekonomi, tetapi juga memperkaya ragam kuliner dan produk lokal yang ditawarkan kepada masyarakat luas.
Artikel Terkait
Parkir Liar di Manggarai Ditindak, Dishub Jakarta Selatan Cabut Pentil Kendaraan
Kejagung Minta BPD Perkuat Pengawasan Desa untuk Cegah Korupsi
Jokowi Beri Arahan ke Kader PSI: Target 2029 Bukan Sekadar Lolos Senayan
Korban Penipuan Dana Syariah Indonesia Desak Bareskrim Pulihkan Hak Mereka