Di tengah gejolak pasar keuangan global dan domestik yang menekan indeks saham serta memicu arus keluar modal asing, PT Bank DBS Indonesia justru mencatatkan lonjakan signifikan pada bisnis pengelolaan kekayaan melalui layanan DBS Treasures. Hingga Mei 2026, segmen ini membukukan pertumbuhan laba bersih setelah pajak (NPAT) sebesar 289% secara tahunan, didorong oleh peningkatan jumlah nasabah baru hingga 73% serta strategi investasi yang menempatkan emas sebagai instrumen unggulan.
Pencapaian tersebut terjadi di saat tekanan pasar keuangan sedang mencapai puncaknya. Data per Mei 2026 menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi hampir 30%, sementara arus keluar modal asing tercatat mencapai sekitar Rp41,16 triliun. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri perbankan, namun DBS Indonesia justru mampu membalikkan situasi menjadi peluang pertumbuhan.
Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, mengungkapkan bahwa perubahan perilaku investor kelas atas menjadi faktor kunci di balik kinerja positif tersebut. Dalam keterangan tertulis yang diterima pada Jumat (19/6/2026), ia menjelaskan bahwa nasabah affluent kini semakin responsif terhadap ketidakpastian geopolitik dan volatilitas global.
“Dalam beberapa tahun terakhir, kami melihat perubahan perilaku nasabah affluent yang semakin signifikan, terutama pada kondisi pasar yang dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik dan volatilitas global. Situasi ini menjadi perhatian utama kami, dan secara konsisten kami mengedepankan strategi wealth management yang berbasis insight yang objektif, komprehensif, berorientasi pada peluang, dapat ditindaklanjuti, serta relevan dengan pendekatan personal yang berpusat pada nasabah,” ujar Melfrida.
Untuk merespons dinamika tersebut, DBS mengandalkan rekomendasi investasi yang lebih personal melalui integrasi wawasan investasi regional dari Chief Investment Office (CIO) DBS dan teknologi machine learning. Salah satu strategi utama yang diunggulkan adalah mempertahankan posisi overweight pada emas sebagai instrumen defensif. Langkah ini didukung oleh tren peningkatan permintaan emas global yang signifikan, di mana pada kuartal I 2026 permintaan investasi emas dunia meningkat 74% secara tahunan, sementara permintaan emas batangan di Indonesia tumbuh 47%.
Di sisi lain, Head of Investment & Insurance Product PT Bank DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, menilai bahwa ketidakpastian global masih akan berlanjut. Hal ini dipicu oleh tingginya inflasi dan dinamika geopolitik internasional. Di Amerika Serikat, misalnya, inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,5% secara tahunan, masih berada di atas target Federal Reserve sebesar 2%.
“Tahun 2025 menjadi periode yang penuh tantangan bagi pasar global akibat tingginya ketidakpastian, penyesuaian suku bunga, dan persaingan yang semakin ketat. Memasuki paruh kedua 2026, volatilitas diperkirakan tetap tinggi, namun peluang strategis masih terbuka bagi investor berorientasi jangka panjang. Dalam kondisi pasar yang kompleks ini, CIO Office DBS mengedepankan pendekatan conviction-led yang berfokus pada strategi diversifikasi investasi yang jelas dan dapat ditindaklanjuti,” kata Djoko.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, DBS menyediakan akses investasi emas global melalui Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) dengan minimum investasi Rp5 miliar. Perseroan juga menghadirkan 16 produk investasi baru yang dikurasi untuk memperkuat ketahanan portofolio nasabah di tengah dinamika pasar yang terus berubah.
Artikel Terkait
I.League Tegaskan Aturan Pemain Muda Tak Dihapus, Klub Wajib Daftarkan Lima Pemain U-23 Musim Depan
Wakil Ketua DPR Terima Aspirasi Mahasiswa, Kelangkaan BBM Subsidi Jadi Sorotan Utama
Wakil Ketua DPR Hubungi Menteri ESDM di Tengah Demo Mahasiswa Soal Kelangkaan BBM Bersubsidi
Iran Tetapkan Gencatan Senjata di Lebanon sebagai Syarat Negosiasi Nuklir dengan AS