Ketahanan pangan bukan lagi sekadar urusan ketersediaan bahan pokok, melainkan telah menjadi fondasi strategis yang menentukan arah pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Di tengah ancaman perubahan iklim, gejolak ekonomi global, dan gangguan rantai pasok yang kian tidak menentu, Indonesia dituntut untuk tidak hanya menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, tetapi juga membangun sistem yang berkelanjutan dan mandiri. Urgensi inilah yang mendorong Metro TV bersama Bank Indonesia menggelar forum diskusi bertajuk “Ketahanan Pangan untuk Indonesia Emas” di Grand Ballroom Kempinski Hotel, Jakarta, pada Rabu, 10 Juni 2026.
Forum yang dikemas dalam Economic Conference of The National Sustainable Food Programme ini menghadirkan para pemangku kepentingan dari berbagai sektor. Hadir sebagai pembicara antara lain Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali, Kepala Departemen Regional Bank Indonesia Rudy Brando Hutabarat, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, Ketua Tim Kerja Stabilisasi Pasokan Pangan Badan Pangan Nasional Yudhi Harsatriadi Sandyatma, serta Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pangan KADIN Indonesia Mulyadi Jayabaya. Kehadiran mereka merepresentasikan sinergi antara regulator, akademisi, dan dunia usaha dalam merumuskan langkah konkret memperkuat sektor pangan nasional.
Direktur Utama Metro TV Arief Suditomo dalam sambutannya menekankan bahwa ketahanan pangan memiliki peran strategis yang melampaui sekadar pemenuhan kebutuhan dasar. Menurutnya, sektor ini menjadi fondasi bagi stabilitas ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan pembangunan.
“Menuju Indonesia Emas 2045, ketahanan pangan tidak hanya menjadi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, tetapi juga fondasi bagi stabilitas ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan pembangunan. Sejalan dengan visi pembangunan nasional melalui Asta Cita, ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas utama dalam mewujudkan swasembada dan kemandirian pangan sebagai fondasi kedaulatan bangsa,” kata Arief Suditomo.
Ia menambahkan bahwa berbagai tantangan global yang terus berkembang menjadikan penguatan sektor pangan sebagai agenda yang tidak bisa ditunda. Forum ini, lanjutnya, menjadi ruang strategis untuk mempertemukan gagasan, pengalaman, dan solusi agar dapat diterjemahkan menjadi langkah-langkah nyata.
“Di tengah berbagai tantangan global yang terus mengancam, event ini mengingatkan kita bahwa upaya memperkuat sektor pangan tidak hanya menjadi kebutuhan hari ini, tetapi juga merupakan investasi strategis masa depan bangsa kita. Forum ini juga penting sebagai ruang bertemunya gagasan, pengalaman, dan solusi untuk dapat diterjemahkan menjadi langkah-langkah yang nyata,” ujar Arief.
Senada dengan hal tersebut, Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi utama untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maju dan berdaya saing pada 2045. Menurutnya, seluruh agenda besar pembangunan harus berdiri di atas kemampuan bangsa dalam menyediakan pangan yang cukup, terjangkau, berkualitas, dan berkelanjutan.
“Ketika kita berbicara mengenai Indonesia Emas tahun 2045, kita berbicara mengenai ekonomi yang maju dan berdaya saing. Namun, seluruh agenda besar tersebut harus berdiri di atas fondasi yang kuat, yaitu kemampuan bangsa dalam menyediakan pangan yang cukup, terjangkau, berkualitas, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat,” kata Ricky.
Bank Indonesia, lanjut Ricky, akan terus menjaga stabilitas perekonomian melalui bauran kebijakan, termasuk pengendalian inflasi serta koordinasi dengan pemerintah untuk memastikan pasokan dan distribusi pangan tetap terjaga. Upaya ini, menurutnya, memerlukan sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, perbankan, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat.
Sementara itu, Kepala BRIN Arif Satria menilai riset dan inovasi harus memberikan dampak nyata bagi pembangunan nasional, termasuk dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan ketahanan pangan. Ia mengungkapkan bahwa BRIN saat ini mulai mengarahkan agenda riset agar lebih berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah.
“Jadi, BRIN memang kita saat ini mulai fokus pada impact. Bagaimana kontribusi kita kepada cita-cita kita untuk bisa stabil pada tumbuh 8%. Itu sebuah mimpi yang harus juga kita wujudkan,” kata Arif Satria.
Ia menjelaskan terdapat tiga fokus utama yang tengah dikembangkan BRIN. Pertama, mendorong riset dan inovasi untuk mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kedua, memperkuat daya saing industri dan badan usaha milik negara (BUMN). Ketiga, mempercepat penguasaan teknologi melalui kolaborasi dan pengembangan bersama.
“Nah, sehingga ada tiga track yang akan kita lakukan. Pertama adalah bagaimana riset inovasi mendukung UMKM. Kedua, bagaimana riset inovasi mendukung industri dan dana-dana BUMN. Dan yang terakhir adalah bagaimana co-development, reverse engineering harus kita lakukan. Banyak proyek-proyek strategis nasional yang berasal teknologinya dari luar,” ujar Arif.
Sebagai penutup, Arif menegaskan bahwa penguasaan teknologi menjadi langkah penting agar Indonesia tidak terus bergantung kepada negara lain dalam menjalankan berbagai proyek strategis nasional. Forum Economic Conference of The National Sustainable Food Programme ini pun menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045. Melalui penguatan pasokan dan distribusi pangan, pengendalian inflasi, riset dan inovasi yang berdampak, serta kolaborasi lintas sektor, Indonesia diharapkan mampu membangun sistem pangan yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
12.500 Guru Penerima Beasiswa Pemerintah Dijadwalkan Wisuda Tahun Ini, Presiden Diminta Hadir Langsung
SKK Migas Setujui POD Lapangan Ronggolawe, Target Produksi 5.126 BOPD pada 2029
Presiden Prabowo Koreksi Kepemimpinan BGN Usai Deretan Skandal Program Makan Bergizi Gratis
Pertumbuhan Ekonomi Pekanbaru Triwulan I 2026 Tembus 8 Persen, Didorong Belanja Pemerintah yang Melonjak 20 Persen