Militer Israel mengonfirmasi bahwa salah satu prajuritnya tewas dalam serangan drone peledak yang dilancarkan oleh kelompok Hizbullah di Lebanon selatan. Peristiwa ini menambah panjang daftar korban di pihak Israel sejak eskalasi konflik kembali memanas pada awal Maret lalu, yang kini telah menewaskan 25 orang.
Prajurit yang gugur diidentifikasi sebagai Sersan Staf Michael Tyukin, berusia 21 tahun. Seorang juru bicara militer Israel menyampaikan kepada AFP bahwa Tyukin menjadi korban akibat serangan drone yang dilancarkan oleh Hizbullah. “Ia gugur dalam pertempuran di Lebanon selatan,” demikian bunyi pernyataan singkat dari pihak militer Israel.
Secara keseluruhan, sejak permusuhan antara Israel dan Hizbullah kembali pecah pada 2 Maret, sebanyak 25 warga Israel telah tewas. Rinciannya mencakup 24 tentara dan satu kontraktor sipil. Eskalasi ini dipicu oleh keputusan kelompok militan Syiah yang didukung Iran itu untuk membuka kembali front pertahanan sebagai bentuk dukungan terhadap Teheran, menyusul serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat.
Di sisi lain, militer Israel juga melaporkan bahwa pihaknya berhasil mencegat serangan pesawat musuh pada pukul 10.49 pagi waktu setempat di kawasan Zar’it, Israel utara. Selain itu, terdapat laporan mengenai “target udara musuh yang mencurigakan” yang jatuh di area terbuka. Meskipun objek tersebut memicu sirene di sejumlah kota di sepanjang perbatasan, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden tersebut.
Situasi di perbatasan Israel-Lebanon terus memanas dengan aksi saling balas serangan yang melibatkan drone dan artileri. Hizbullah, yang sejak awal Maret meningkatkan intensitas serangannya, belum menunjukkan tanda-tanda akan meredakan ketegangan di wilayah tersebut.
Artikel Terkait
5 Tips Mudah Atasi Mabuk Perjalanan di Mobil Ber-AC agar Liburan Tetap Nyaman
Pemerintah Tegaskan Agenda Resmi Prabowo Hanya ke Prancis, Bantah Isu Kunjungan ke Italia
Lampion Waisak di Bundaran HI Jadi Jembatan Toleransi dan Wisata Urban Ramah Kantong
Serangan Drone Rusak Pembangkit Nuklir Zaporizhzhia, IAEA Peringatkan Risiko Bencana