Negosiasi Nuklir Iran-AS di Ambang Gagal Akibat Kebuntuan Pencairan Aset dan Isu Uranium

- Senin, 25 Mei 2026 | 07:00 WIB
Negosiasi Nuklir Iran-AS di Ambang Gagal Akibat Kebuntuan Pencairan Aset dan Isu Uranium

Negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat berada di ambang kegagalan akibat belum terselesaikannya dua perbedaan utama, yakni pencairan aset Iran yang dibekukan dan isu material nuklir. Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan pada Minggu, 24 Mei 2026, bahwa pembicaraan bisa runtuh jika kedua pihak tidak mencapai titik temu. Media tersebut, mengutip sumber yang mengetahui jalannya negosiasi, menyebut Washington masih menghambat ketentuan terkait pencairan aset Iran yang dibekukan.

“Masalah-masalah tersebut belum terselesaikan sejauh ini,” tulis laporan Tasnim.

Di sisi lain, Iran tetap mempertahankan “garis merah” terkait hak rakyatnya. Dikutip dari Yeni Safak, Senin, 25 Mei 2026, Teheran menolak mengaitkan pencairan aset dengan pembuangan material nuklir berupa uranium yang diperkaya. Sikap ini menunjukkan kebuntuan yang masih membayangi proses diplomasi antara kedua negara.

Sementara itu, sebelumnya seorang pejabat AS mengungkapkan kepada The New York Times bahwa Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan awal untuk membuka kembali Selat Hormuz. Sebagai imbalannya, Iran disebut berkomitmen membuang stok uranium yang diperkaya. Namun, metode pembuangan uranium tersebut masih dalam tahap negosiasi. Kesepakatan yang tengah dibahas juga disebut tidak mencakup pembatasan stok rudal Iran maupun penghentian program pengayaan uranium.

Persetujuan akhir dari Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei masih diperlukan dan diperkirakan memakan waktu beberapa hari. Ketegangan di kawasan meningkat sejak Februari setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap target-target Iran. Teheran kemudian membalas dengan menyerang Israel dan sejumlah sekutu Teluk, serta menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis perdagangan energi dunia.

Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan mulai berlaku pada 8 April dan kemudian diperpanjang tanpa batas waktu oleh Trump. Namun, situasi disebut masih rapuh di tengah kebuntuan diplomatik yang terus berlangsung. Tanpa penyelesaian atas perbedaan mendasar, prospek kesepakatan komprehensif masih jauh dari jangkauan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar