Kesehatan sering kali dianggap sebagai aset paling berharga, terutama ketika seseorang memasuki usia lanjut. Namun, tuntutan profesional yang tinggi kerap membuat individu mengabaikan pola hidup sehat, sebagaimana dialami oleh Dr. Ira Purwitasari, seorang dosen aktif yang harus berjuang melawan vertigo dan kolesterol tinggi akibat kebiasaan begadang dan kurang tidur.
Sebagai pendidik di bidang komunikasi pemasaran, Dr. Ira memiliki jadwal yang sangat padat. Ia mengaku telah terbiasa hanya tidur selama empat jam sehari sejak masa studi S2 dan S3. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga kini, di mana ia sering baru bisa memejamkan mata di atas pukul 12 malam, bahkan ketika tidak sedang dalam kesibukan yang mendesak.
Akibat pola hidup tersebut, Dr. Ira kerap mengalami keluhan kesehatan yang mengganggu aktivitas mengajarnya. “Kadang vertigo saya terjadi pada saat sedang di kelas. Tiba-tiba terasa seperti gempa,” ungkapnya dalam program Go Healthy pada Sabtu, 23 Mei 2026. Vertigo yang dialaminya terkadang membuatnya hampir pingsan dan muntah.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan kondisi yang lebih mengkhawatirkan. Angka kolesterolnya mencapai 300 mg/dL, gula darah di atas 200 mg/dL, serta tekanan darah yang masuk kategori pre-hipertensi, yakni 131/89 mmHg. Kombinasi angka tersebut menandakan adanya gangguan metabolik yang serius.
Secara medis, kurang tidur bukan sekadar menyebabkan rasa kantuk biasa. Dampaknya signifikan terhadap peningkatan tekanan darah, kadar kolesterol, gula darah, hingga risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Kondisi darah yang kental akibat tingginya kadar lemak dan gula dapat memicu terbentuknya sumbatan atau trombus. Jika aliran darah ke otak tersumbat, komplikasi serius seperti stroke dapat terjadi. Sementara itu, hambatan aliran darah ke jantung berpotensi menyebabkan serangan jantung, dan ke ginjal bisa memicu gagal ginjal.
Di sisi lain, perkembangan teknologi medis menawarkan solusi alternatif untuk membantu mengatasi masalah tersebut. Salah satunya adalah teknologi laser yang dirancang untuk memproduksi sinar laser dengan tiga varian warna, yakni merah, biru, dan kuning. Teknologi ini diklaim mampu mengurai penggumpalan darah di pembuluh darah ketika sinar laser mengenai area yang bermasalah.
Alat tersebut digunakan dengan cara ditempelkan di pergelangan tangan kiri, sehingga sinarnya menyinari pembuluh nadi dan titik akupuntur di area tersebut. Menurut klaim yang beredar, manfaatnya mencakup memperlancar aliran darah dan mengurai penggumpalan darah yang menjadi penyebab penyumbatan. Pengguna disarankan untuk menggunakan alat ini sebanyak dua hingga tiga kali sehari dengan durasi 15 hingga 60 menit setiap kali pemakaian.
Teknologi low-level laser ini disebut-sebut dapat membantu mengendalikan tekanan darah tinggi dengan meningkatkan kualitas darah dan pembuluh darah. Kekentalan darah juga bisa dicegah karena aliran darah menjadi lebih lancar. Bahkan, alat ini direkomendasikan bagi mereka yang tidak memiliki keluhan penyakit, sebagai bentuk pencegahan jangka panjang.
Bagi masyarakat yang ingin mengetahui lebih lanjut atau mencoba teknologi ini, informasi produk dan pemesanan dapat diperoleh melalui nomor call center (021) 8082 1200 atau WhatsApp/SMS center 0812 8686 9090. Konten kesehatan lainnya yang menginspirasi juga dapat disaksikan di program Metro TV “Go Healthy” maupun melalui channel YouTube Go Healthy.
Artikel Terkait
Tukang Tambal Ban di Jombang Bakar Toko Grosir karena Dendam Diusir Pemilik
Serangan Udara Israel Tewaskan Enam Orang di Gaza, Gencatan Senjata Kembali Terkoyak
Patuna Travel Siapkan Hotel Transit di Makkah Dekat Armuzna untuk Jemaah Haji
Kecelakaan Maut di Tol Paspro, Sopir Innova Diduga Mengantuk hingga Tabrak Dump Truk, Dua Staf Anggota DPR Tewas