Pemerintah Beri Diskon Tiket Pesawat dan Bebaskan Bea Impor Suku Cadang untuk Selamatkan Pariwisata di Tengah Krisis Energi

- Rabu, 20 Mei 2026 | 22:15 WIB
Pemerintah Beri Diskon Tiket Pesawat dan Bebaskan Bea Impor Suku Cadang untuk Selamatkan Pariwisata di Tengah Krisis Energi
Pemerintah memberikan sejumlah insentif di sektor pariwisata untuk merespons dinamika geopolitik global, khususnya yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Langkah ini diambil di tengah tekanan krisis energi yang berdampak langsung pada kenaikan harga avtur dan biaya operasional penerbangan. Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan insentif berupa diskon tiket pesawat untuk kelas ekonomi serta menanggung Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bagi sektor tersebut. “Tentu krisis energi ini berdampak pada meningkatnya harga avtur. Kementerian Pariwisata bekerja sama dengan kementerian lainnya untuk memberikan insentif seperti insentif diskon pesawat kelas ekonomi, PPN-nya ditanggung oleh pemerintah,” ujarnya usai menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata di Jakarta. Selain itu, pemerintah juga membebaskan bea masuk impor suku cadang pesawat menjadi nol persen. Kebijakan ini diharapkan dapat meringankan beban biaya yang dikeluarkan oleh industri penerbangan. Widiyanti menambahkan, insentif diskon untuk kursi ekonomi juga bertujuan agar wisatawan tetap dapat bepergian dengan harga yang terjangkau di tengah tekanan ekonomi global. “Kita harus siasati bagaimana mengisi kekurangan akibat krisis dari Timur Tengah,” kata dia. Di sisi lain, Kementerian Pariwisata tengah menyasar wisatawan berkualitas yang tidak terlalu terpengaruh oleh kenaikan biaya perjalanan. Segmen ini dinilai lebih mengutamakan pengalaman bermakna dibanding sekadar destinasi wisata biasa. “Bukan hanya melihat pantai atau gunung, tapi bagaimana mereka bisa bertemu dengan komunitas. Apalagi Indonesia sangat terkenal karena masyarakatnya sangat ramah,” ujar Widiyanti. Ia menegaskan bahwa pemerintah terus bekerja keras memberikan insentif agar industri penerbangan dan pariwisata tetap bergerak. “Kami akan terus mengupayakan dan tentu akan mengumumkan berikutnya,” imbuhnya. Sementara itu, Pelaksana Tugas Deputi Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani Mustafa, menilai penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat saat ini justru dapat menjadi momentum positif bagi pariwisata Indonesia. Menurutnya, meskipun pelemahan rupiah menjadi tantangan, situasi ini membuat harga layanan wisata di Indonesia lebih kompetitif dibandingkan negara lain. “Ini harus kita pikirkan, karena kenaikan harga avtur tentunya berdampak pada kenaikan harga untuk berwisata. Jadi saya pikir ini perlu dibahas sebenarnya,” ucap Rizki. Ia menambahkan, daya saing destinasi Indonesia justru meningkat karena harga menjadi lebih terjangkau bagi wisatawan asing. “Kita menjadi lebih kompetitif karena harga menjadi lebih affordable. Saya tidak mau bilang murah ya, tapi affordable sebenarnya. Ini malah sebagai kekuatan kalau menurut saya,” pungkasnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar