Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah kedua negara gagal mencapai kesepakatan damai. Saling ancaman perang kini dilontarkan secara terbuka, sementara Israel mengumumkan pasukannya telah berada dalam posisi siaga penuh untuk menghadapi kemungkinan konflik berskala lebih luas. Situasi ini menandai eskalasi baru di kawasan Timur Tengah yang telah dilanda ketidakpastian selama beberapa bulan terakhir.
Kepala Angkatan Darat Israel, Letnan Kolonel Eyal Zamir, menyatakan bahwa militernya kini berada pada tingkat siaga tertinggi. Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan seluruh komandan divisi, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita AFP pada Rabu (20/5/2026).
“Saat ini, IDF (militer Israel) berada pada tingkat siaga tertinggi dan siap untuk setiap perkembangan,” ujar Zamir. Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran serius akan kemungkinan pecahnya perang terbuka antara Iran dan Amerika Serikat yang dapat melibatkan aktor-aktor lain di kawasan.
Di sisi lain, Garda Revolusi Islam Iran mengeluarkan peringatan keras bahwa perang Timur Tengah akan meluas jauh keluar kawasan apabila Amerika Serikat dan Israel melanjutkan agresi terhadap republik Islam tersebut. Peringatan itu disampaikan melalui pernyataan resmi di situs Sepah News, seperti dikutip AFP pada hari yang sama.
“Jika agresi terhadap Iran diulangi, perang regional yang dijanjikan kali ini akan meluas jauh keluar kawasan, dan serangan dahsyat kami akan menghancurkan Anda,” demikian bunyi pernyataan Garda Revolusi. Ancaman ini muncul sebagai respons langsung terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebutkan kemungkinan serangan lanjutan jika tidak ada kesepakatan dalam beberapa hari ke depan.
Kedua pihak terus meningkatkan retorika perang sambil tetap bertukar proposal untuk mengakhiri konflik yang meletus sejak 28 Februari lalu. Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak 8 April, ketegangan di lapangan belum menunjukkan tanda-tanda mereda secara signifikan.
“Musuh Amerika-Zionis harus tahu bahwa meskipun serangan dilakukan terhadap kita menggunakan kemampuan penuh dari dua tentara termahal di dunia, kita belum mengerahkan kekuatan penuh revolusi Islam,” tegas Garda Revolusi dalam pernyataannya. Kalimat itu menegaskan bahwa Iran masih memiliki opsi militer yang belum digunakan.
Sementara itu, pada Selasa (19/5), Trump memberikan tenggat waktu beberapa hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan. Ia mengungkapkan bahwa para pemimpin Teluk Arab memintanya untuk menunda serangan pada saat-saat terakhir. “Saya mengatakan dua atau tiga hari, mungkin Jumat, Sabtu, Minggu, sesuatu, mungkin awal minggu depan, jangka waktu terbatas,” kata Trump.
Menanggapi tekanan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menulis di media sosial X bahwa “kembalinya perang akan menghadirkan lebih banyak kejutan”. Pernyataan itu menambah ketidakpastian mengenai arah konflik ke depannya, terutama karena kedua pihak masih bersikukuh pada posisi masing-masing tanpa menunjukkan fleksibilitas yang berarti.
Artikel Terkait
Kebakaran Hebat Landa Kantor Bupati Bulungan, Sejumlah Ruangan Ludes
PTUN Jakarta Tolak Gugatan Ali Wongso Soal Kepengurusan SOKSI Kubu Misbakhun
Pemerintah Gunakan Jalur Diplomasi dan Mekanisme PBB untuk Lindungi WNI yang Ditahan Israel
Kejari Serang Bongkar Pungli di BPN Kota Serang, Enam Pejabat Jadi Tersangka